[#1 Introduction] Cyber: Dunia Maya atau Dunia Gaib?

Cyber merupakan istilah yang semakin tren hari demi hari. Bagaimana tidak tren, hampir seluruh aspek kehidupan manusia berkaitan dengan frasa tersebut. Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi membuat manusia terikat dengan segala manfaat  yang diberikan.  Cyber merupakan segala aktivitas yang menggunakan internet, Di Indonesia sendiri, Cyber sering diartikan sebagai Dunia Maya. Dua kata tersebut selalu diucapkan orang-orang yang merasakan manfaat dari Cyber Law itu sendiri. Namun, apakah benar Cyber adalah Dunia Maya? Mari kita bahas secara kata demi kata.

Menurut KBBI, Dunia berarti bumi dengan segala sesuatu yang terdapat diatasnya, sedangkan Maya berarti hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada, atau diartikan sebagai hanya ada dalam angan-angan ataupun khayalan. Dari defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Dunia Maya berarti bukan segala sesuatu yang nyata. Jika kita melihat aktivitas yang terjadi di dunia Cyber ataupun internet, segala akibat dari penggunaan tersebut tentunya berimplikasi terhadap kehidupan nyata. Contoh nyatanya dapat kita lihat ketika seseorang menyebarkan suatu informasi yang dapat menghina nama orang lain, maka orang penyebar informasi tersebut akan diberikan sanksi sebagaimana diatur dalam Cyber Law. Oleh karena itu, istilah Dunia Maya untuk mengartikan Cyber adalah tidak tepat karena jika kita mengartikan Cyber sebagai Dunia Maya, maka artinya mendekati dengan Dunia Gaib, yaitu sesuatu sesuatu yang tidak kelihatan. Lantas, apa artinya Cyber?

Mengartikan kata Cyber kedalam Bahasa Indonesia adalah hal yang tidak mudah, walaupun kamus mengartikan kata Cyber dalam Bahasa Indonesia sebagai Siber. Namun penjelasan tersebut tidaklah cukup. Seperti yang diungkapkan diatas, bahwa Siber ini merupakan segala aktivitas yang nyata dan dilakukan dalam suatu media. Media tempat terjadinya aktivitas yang dilakukan melalui internet dan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi itu dikenal dengan istilah Cyberspace, yaitu suatu media tempat berkumpulnya para pengguna internet. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dunia nyata dan Dunia Siber adalah berimplikasi, maka tentu segala komposisi di dalamnya baik itu pelaku ataupun orang-orangnya maupun segala aktivitas yang dilakukan tentunya memiliki dampak. Ketika seseorang melakukan kejahatan di media sosial, maka orang tersebut akan dikenakan sanksi, sama halnya ketika seseorang melakukan kejahatan pencurian barang orang lain akan dikenakan sanksi yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia. Namun, terdapat istilah khusus terhadap kejahatan di Dunia Siber, yang dikenal sebagai CybercrimeCybercrime disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu

  • Perkembangan teknologi;
  • Tidak ada batasan (borderless);
  • Bebas akses tanpa batasan geografis.

Untuk mengantisipasiCybercrime beserta faktor penyebabnya, maka tentu diperlukan adanya aturan ataupun regulasi secara khusus yang mengatur mengenai pengguna yang memanfaatkan Cyber tersebut, dan istilah aturan tersebut dikenal dengan Cyber Law. Di Indonesia, regulasi mengenai Cyber Law diatur dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE). Regulasi ini diharapkan mampu untuk mencegah maupun mengantisipasi jika suatu kejahatan siber terjadi. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa setelah ada UU ITE, kasus kejahatan media sosial masih terjadi? atau kasus-kasus lainnya yang berkaitan dengan Dunia Siber acapkali berkeliaran dan berdampak bagi kehidupan masyarakat? Tentunya pembahasan mengenai Cyber tidak akan berhenti sampai disini. Nantikan pembahasan mengenai Cyber pada artikel selanjutnya 

Recommend0 recommendationsPublished in Legal

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *