Ada Apa dengan Jurassic Park Komodo?

Belakangan ini, topik Jurassic Park sedang ramai kembali dibicarakan. Eits, sebentar, sayangnya ini bukan tentang film terbaru Jurassic Park. Akan tetapi, karena adanya pembangunan ‘Jurassic Park’ di daerah Konservasi Komodo, tepatnya di Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagaimana yang dilansir dari CNN World, menurut pemerintah proyek ini ditujukan untuk menarik wisatawan, pembangunan pun diyakinkan akan dilakukan dengan aman dan tidak membahayakan komodo. Namun, di satu sisi pembangunan ini menimbulkan kontroversi yang ditentang oleh para environmentalist dikarenakan dapat membahayakan dan merusak habitat komodo (CNN World, 2020). Jadi yang benar bagaimana, apakah memang bisa membahayakan habitat komodo serta lingkungan sekitar?

Keberadaan dari habitat komodo ini telah tercatat dan dilindungi oleh UNESCO sejak 1991 sebagai salah satu natural heritage. Indonesia sendiri telah mengaksesi Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage sejak tanggal 8 Juli 1989, artinya Indonesia memiliki kewajiban untuk melindungi apa yang tercatat sebagai cultural dan natural heritage. Menurut Pasal 2 konvensi ini, secara singkat yang dimaksud dengan natural heritage adalah fitur alam yang memiliki ciri khas baik secara fisik, biologis, formasi geologis, atau nilai universal baik dari segi sains atau keindahan alam. Menurut UNESCO, Taman Nasional Komodo (TNK) ini memiliki berbagai ciri khas, mulai dari komodo sebagai hewan endemik yang berkaitan dengan studi evolusi hingga ciri khas lingkungan yang savana tetapi juga tropis.

Merujuk kepada Pasal 5 konvensi ini, Indonesia sebagai negara pihak harus melakukan upaya sebaik mungkin untuk memberikan perlindungan, konservasi, dan menunjukkan cultural dan natural heritage sebaik mungkin, mulai dari segi legislasi dan kebijakan publik hingga perlindungan yang pantas untuk warisan dunia tersebut. Apabila kita membandingkan dengan hukum nasional, Pasal 7 UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU 5/1990), perlindungan ini ditujukan agar terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Jadi, sebenarnya apakah TNK boleh diubah sebagian wilayahnya sebagai kawasan pariwisata? Dalam Pasal 33 Ayat (2) UU 5/1990, perubahan terhadap zona inti taman nasional baik dengan mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli tidak diperbolehkan. Di satu sisi, Pasal 34 Ayat (1) dan (2) UU ini memperbolehkan pemanfaatan taman nasional sebagai kepariwisataan. Artinya, pembangunan TNK menjadi ‘Jurassic Park’ ini tidak serta-merta melanggar UU 5/1990, namun dalam Pasal 34 Ayat (3) UU ini, pembangunan sarana kepariwisataan ini harus melibatkan elemen masyarakat. Pertanyaannya, apakah masyarakat sudah terlibat dalam perencanaan dan pembangunan ‘Jurassic Park Komodo’?

Menurut Ugur Sunlu dalam jurnalnya Environmental Impacts of Tourism, terdapat banyak dampak negatif terhadap lingkungan yang dapat diakibatkan dari tourism di suatu wilayah, seperti:

  1. Degradasi lahan, mulai dari mineral, kesuburan tanah, hutan, turunnya muka tanah, dll.
  2. Polusi udara, air, suara, hingga sampah dan limbah padat lainnya
  3. Kerusakan organisme dan mikroorganisme, seperti misalnya limbah air dari hotel dan fasilitas rekreasi lainnya yang kemudian merusak alga dan koral di laut.
  4. Tingginya permintaan atas sumber daya alam lokal (seperti energi, makanan, dan material mentah lainnya) untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, sedangkan sumber daya tersebut tidak selalu bisa didapatkan setiap saat dan bisa bersifat musiman. Hal ini kemudian bisa mendorong eksploitasi alam berlebihan dan dapat merusak lingkungan secara berkepanjangan.

Kontroversi akan pembangunan Jurassic Park Komodo ini tentu masih akan terus berlanjut, entah memang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat seperti yang diamanatkan dalam Pasal 3 UU 5/1990 atau menjadi boomerang yang merugikan masyarakat serta mencederai fungsi inti konservasi TNK itu sendiri. 

Recommended1 recommendationPublished in Legal, News

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *