Aduh Perusahaan Bangkrut, Gimana dong?

Posisi menjadi pengusaha memang diinginkan oleh orang banyak, terutama pengusaha yang mendirikan perusahaan besar. Tentu yang ada di pikiran kebanyakan orang adalah iming-iming penghasilan yang besar. Dalam perusahaan, istilah pengusaha biasanya merujuk pada direksi. Tetapi, banyak yang lupa bahwa posisi yang tinggi memegang tanggung jawab yang tinggi pula. Salah satunya ketika perusahaan sedang berada dalam kondisi yang tidak sehat atau yang disebut dengan mengalami kebangkrutan. Apa sih yang dimaksud dengan kebangkrutan itu? Lalu bagaimana kelanjutan perusahaan tersebut apabila dinyatakan bangkrut?

Pengertian kebangkrutan atau yang disebut dengan insolvensi dalam undang-undang sendiri tidak diatur, tetapi istilah tersebut ada dalam penjelasan Pasal 57 ayat (1) UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (KPKPU), yaitu ketidakmampuan debitur untuk membayar utang. Dalam hal ini, harus dibedakan antara kebangkrutan dan kepailitan. Walaupun kedua istilah itu sama-sama merujuk pada ketidakmampuan debitur dalam membayar utang, ada syarat-syarat yang membedakan satu kondisi dengan kondisi lain. Perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud debitur di sini adalah perusahaan. Debitur individu akan mengalami proses penyelesaian perkara kepailitan dan kebangkrutan yang berbeda dengan debitur perusahaan. Kepailitan mensyaratkan debitur perusahaan tidak mampu membayar utang kepada minimal 2 kreditur atau lebih atas minimal satu utang yang dapat ditagih dan sudah jatuh tempo. Sedangkan kebangkrutan berarti debitur tidak mampu membayar utang kepada semua krediturnya. Di sini terlihat bahwa tidak ada jumlah minimum kreditur untuk dinyatakan bangkrut. Persyaratan kedua yang paling penting adalah debitur dinyatakan bangkrut apabila jumlah seluruh utang yang dimiliki perusahaan tersebut melebihi seluruh harta kekayaan perusahaan. Keadaan ini dinamakan balance sheet insolvency. Dalam kepailitan, dimungkinkan bahwa aset dari perusahaan itu masih melebihi jumlah utang yang dimiliki, sehingga harta dari perusahaan itu bisa saja cukup untuk membayar utang-utang kreditur tersebut.

Dalam hal kebangkrutan suatu perusahaan terjadi, maka ada langkah-langkah penyelesaian yang dapat diambil, yaitu:

  1. Melihat apakah perusahaan tersebut masih bisa dijalankan atau tidak.
  2. Apabila masih bisa dijalankan, maka dimungkinkan perusahaan tersebut untuk tetap beroperasi seperti biasa walaupun adanya status bangkrut itu. Dalam hal ini, direksi meminta pengawasan dari Pengadilan Niaga dalam menjalankan perusahaannya dan perlindungan agar dilindungi dari kreditur sampai kondisi perusahaan tersebut menjadi lebih baik
  3. Melakukan reorganisasi perusahaan untuk membayar utang-utang kreditur. Reorganisasi ini dilakukan apabila jumlah seluruh utang kepada kreditur tidak terlalu jauh bedanya dengan jumlah seluruh aset perusahaan. Reorganisasi dilakukan dengan cara pemegang saham, obligasi, dan kreditur menyetujui untuk menyerahkan kepentingannya dan membentuk perusahaan baru yang ditujukan untuk menyelesaikan utang-utang perusahaan yang lama sembari tetap menjalankan perusahaan yang lama tersebut
  4. Apabila jumlah seluruh utang terlalu jauh bedanya dengan jumlah seluruh aset perusahaan, maka reorganisasi tidak dapat lagi diambil.
  5. Untuk penyelesaiannya, maka jalur yang ditempuh adalah dengan melakukan likuidasi perusahaan.

Likuidasi perusahaan dilakukan apabila perusahaan tersebut tidak bisa dijalankan lagi diakibatkan jumlah utang yang terlalu besar. Likuidasi berarti usaha tersebut dinyatakan bangkrut dan berhenti beroperasi. Dalam hal ini, likuidasi bisa dilaksanakan melalui permintaan kreditur atas perusahaan yang bangkrut tersebut. Likuidasi ini dilaksanakan oleh likuidator, yang mana direksi dapat menjadi likuidator. Kemudian, likuidator menjual seluruh aset perusahaan tersebut sehingga hasil penjualan itu digunakan untuk membayar utang-utang kreditor. Apabila dana hasil penjualan aset tersebut tidak cukup untuk membayar semua kreditur, maka kreditur preferen didahulukan pembayaran utangnya. Kemudian untuk kreditur lainnya, pembayaran utang tersebut dilakukan dengan pembagian dana secara merata. Apabila ternyata dana penjualan aset ini terdapat sisa, maka akan dibagikan ke pemegang saham perusahaan tersebut.

Demikianlah tata cara yang bisa diambil apabila suatu perusaaan mengalami kebangkrutan. Sekian dan semoga membantu

Recommend0 recommendationsPublished in Bisnis, Legal, Tips

Related Articles

Penundaan Pembayaran THR Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Di tengah kondisi bencana non-alam yang sedang terjadi, perusahaan-perusahaan banyak yang mengalami krisis, baik dari sisi usaha, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Sebagian besar pengusaha mengalami kekhawatiran akan keberlangsungan usaha mereka. Begitu pula bagi para karyawan, mereka khawatir akan turunnya gaji dan tunjangan mereka. Terlebih lagi, waktu-waktu ini adalah masa menjelang Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *