ALERTA! ALERTA!

Tepat pada bulan Oktober, di tengah keadaan penanganan pandemi di Indonesia yang ditujukan untuk menurunkan kurva penyebaran dan angka kematian akibat Covid-19, kita kembali dihebohkan dengan demo yang dilakukan oleh kalangan buruh dan mahasiswa di berbagai kota besar di Indonesia. Mereka turun ke jalan dengan satu tujuan, yakni menolak keberadaan omnibus law yang dianggap merugikan kalangan buruh, petani, dan banyak pihak. Anggota dewan dan pemerintah bekerja di tengah pandemi untuk secepatnya mengesahkan omnibus law yang dianggap oleh sebagian pihak sebagai produk hukum yang prematur. Dibalik pengesahan omnibus law tentu ada maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemrakasa produk hukum ini, tetapi apakah kemudian maksud dan tujuan tersebut dapat diterima seluruh kalangan? Tentu saja tidak. Seperti halnya terang dan gelap, hitam dan putih, maka akan selalu ada pro dan kontra. Bagi mereka yang pro terhadap keberadaan peraturan ini mungkin akan senang dengan pengesahaan peraturan ini, namun bagi mereka yang kontra jelas apapun harus dilakukan guna menghentikan pengesahaan peraturan ini.

Ada banyak cara untuk menolak pengesahan peraturan ini, namun diantara semua cara yang ada yang paling banyak dilakukan di Indonesia adalah dengan demonstrasi. Kenapa? Demonstrasi memiliki sejarah panjang di Indonesia, demonstrasi juga dianggap sebagai bentuk perjuangan modern, apakah semuanya berhasil? Tentu tidak, tetapi demonstrasi bukanlah tentang berhasil atau tidak. Dari banyak demonstrasi di Indonesia, tujuan utamanya bukanlah semata-mata hanya menolak suatu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, tapi untuk menyadarkan keseluruhan masyarakat, membuka mata masyarakat dari seluruh kalangan menunjukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan oleh karenanya perlu dibenahi karena apabila dibiarkan akan menjadi sebuah masalah besar nantinya. Karena pada dasarnya dalam sebuah kebijakan akan selalu ada pihak yang dirugikan, tidak mungkin seluruh pihak diuntungkan dan atas dasar ini demonstrasi akan selalu ada terutama oleh mereka yang merasa dirugikan karena kebijakan tersebut.

Kegiatan demonstrasi sekarang ini dilakukan dengan dua cara, yakni dengan cara turun ke jalan seperti demonstrasi pada umumnya, dan demonstrasi yang dilakukan melalui media sosial. Keduanya memiliki impact yang berbeda, namun dari pandangan penulis keduanya tetap efektif untuk dilakukan di Indonesia. Kegiatan ini tidak bisa seenaknya saja dilakukan sebenarnya, demonstrasi adalah cara untuk menyuarakan pendapat maka sejatinya kegiatan ini harus diwarnai dengan orasi dan kritik yang membangun. Tetapi yang terjadi kerap kali justru demonstrasi diwarnai dengan kericuhan, alih-alih menyuarakan pendapat, yang kerap terjadi malah menjadi ajang pertempuran antara demonstran dengan pihak aparat yang tidak jarang menimbulkan korban dan rusaknya fasilitas umum.

Kalau begini siapa yang salah? Aparat? Demonstran? Keduanya salah, mengapa? Karena demonstran seringkali melakukan aksi tanpa berpikir reaksi yang timbul dari aksinya, seringkali juga aksi dilakukan tanpa adanya etika. Yang diinginkan oleh demonstran adalah aksi yang bebas tanpa adanya penjagaan aparat, karena bagi demonstran mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi mereka. Naif? Jelas. Yang diinginkan dari demonstran adalah atensi, didengar oleh pemangku kebijakan, lantas ketika aspirasi mereka tidak dilirik apa yang terjadi? Kerusuhan misalnya, perusakan fasilitas publik atau apapun untuk menarik atensi. Oleh karena hal tersebut, perlu adanya aparat, untuk mencegah mereka melakukan kegiatan rusuh, perusakan fasilitas umum dan lain sebagainya yang bukan lagi tindakan demonstrasi yang baik. Namun bagi demonstran, justru keberadaan aparat dianggap sebagai sebuah ancaman, seringkali aparat dianggap sebagai musuh. TIdak jarang orasi yang harusnya ditujukan ke pemangku kebijakan beralih menjadi orasi dan teriakan yang ditujukan kepada aparat di lapangan karena kerap dianggap menghalangi mereka untuk menyampaikan aspirasinya.

Hasilnya? Keributan terjadi antara aparat dan demonstran.

Memang benar bahwa secara etika aparat harus mengayomi, dan tetap diam ketika ditekan oleh demosntran. Namun, ketika tindakan demonstran diluar batas wajar, dan peringatan tidak diacuhkan maka sejatinya aparat berhak melakukan tindakan yang wajar dan tidak menyalahi peraturan yang ada untuk menertibkan para demonstran. Aparat pun kerap kali bertindak seenaknya saja sama seperti demonstran. Melakukan tindakan represif yang berlebihan adalah salah apapun alasannya. Menjadi aparat bukan berarti kalian kebal hukum, pada waktunya hukum akan selalu ada bagi ketidakadilan.

Ini yang perlu dipahami dengan baik oleh demonstran dan aparat, bahwa kalian tetaplah manusia yang punya emosi dan logika yang hanya bisa dikendalikan oleh kalian sendiri. Bahwa dalam demonstrasi yang diutamakan haruslah orasi bukan emosi, dan tidak satupun dari kalian yang berhak untuk mengambil dan menghilangkan hak asasi yang dimiliki setiap manusia. 

Recommend0 recommendationsPublished in Lifestyle, Misc, News, Tips

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *