Awas, Jangan Sampai Menjadi Impostor dalam Karya Ilmiah!

There’s an impostor among us! Yaa seperti game Among Us, di dalam karya ilmiah juga ada impostor yang menyerupai karya ilmiah lain. Gimana tu maksudnya? Plagiat. Dalam membuat suatu karya ilmiah, tentu kita membutuhkan referensi – referensi lain untuk mendukung argumentasi tulisan. Tapi apakah cara kita mengutip tulisan orang lain sudah benar sehingga kita terbebas dari menjadi ‘impostor’? Nah, untuk menghindari plagiat dalam membuat tulisan tentunya kita harus mengikuti aturan dan kaidah penulisan yang berlaku, sebab plagiat juga termasuk pelanggaran dari hak cipta.

Menurut Pasal 1 Angka 1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi (Permendikbud 17/2010), “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”. Lebih lanjut, yang dimaksud oleh karya ilmiah dalam Pasal 1 Angka 6 peraturan menteri ini adalah “hasil karya akademik mahasiswa/dosen/peneliti/tenaga kependidikan di lingkungan perguruan tinggi, yang dibuat dalam bentuk tertulis baik cetak maupun elektronik yang diterbitkan dan/atau dipresentasikan”. Jadi, teman – teman meng-copy paste suatu tulisan tidak bisa sembarangan dilakukan, apalagi jika hasil tulisan tersebut kemudian diakui menjadi hasil tulisan pribadi

Lalu sebenarnya seperti apa sih plagiat dalam karya ilmiah itu? Menurut Pasal 2 Ayat (1) Permendikbud 17/2020, secara umum plagiat ini dapat berupa: 

  1. Mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  2. Mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber secara memadai;
  3. Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  4. Merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari suatu sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyertakan sumber secara memadai;
  5. Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai

Apa yang terjadi jika seseorang melakukan plagiat? Tentu saja tindakan ini memiliki konsekuensi atau sanksi. Merujuk kepada Permendikbud 17/2010, sanksi ini dapat dibagi berdasarkan dua jenis, yaitu dari pelaku (mahasiswa atau dosen/peneliti/tenaga kependidikan) dan dari segi sengaja atau tidaknya plagiat yang dilakukan.

Berdasarkan Pasal 12 Ayat (1) Permendikbud 17/2010, apabila mahasiswa terbukti melakukan plagiat, maka secara berurutan, dari yang paling ringan hingga paling berat, dapat dikenakan sanksi sebagai berikut:

  1. Teguran;
  2. Peringatan tertulis;
  3. Penundaan pemberian sebagian hak mahasiswa;
  4. Pembatalan nilai satu atau beberapa mata kuliah yang diperoleh mahasiswa;
  5. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa;
  6. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa; atau
  7. Pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program.

Nah, menurut Pasal 13 Ayat (1) peraturan menteri ini, jika plagiat yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan ketidaksengajaan maka sanksi nomor 1-3 yang dapat berlaku. Akan tetapi, dalam Ayat (2) jika plagiat dilakukan karena sengaja/ berulang maka sanksi nomor 4-7 yang dapat berlaku.

Bagaimana jika yang melakukan adalah dosen/peneliti/tenaga kependidikan? Apakah sanksi yang berlaku akan sama? Dalam Pasal 12 Ayat (2) Permendikbud 17/2010, terdapat 8 jenis sanksi, yaitu:

  1. teguran;
  2. Peringatan tertulis;
  3. Penundaan pemberian hak dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
  4. Penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional;
  5. Pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar/profesor/ahli peneliti utama bagi yang memenuhi syarat;
  6. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
  7. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan; atau
  8. Pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan

Berdasarkan Pasal 13 Ayat (3) dan (4) peraturan menteri ini, jika dilakukan secara tidak sengaja maka sanksi nomor 1-4 dapat berlaku. Namun, jika dilakukan secara sengaja dan berulang maka sanksi nomor 5-8 yang dapat berlaku.

Lalu apa yang harus dilakukan agar dapat terhindar dari plagiat dalam lingkungan kampus? Pasal 6 Permendikbud 17/2010 ini mengatur bahwa perguruan tinggi harus melakukan pencegahan dengan menetapkan gaya selingkung atau pedoman yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah.

Inilah mengapa penting untuk memperhatikan dan mencantumkan sumber dalam membuat suatu tulisan, agar kita tidak melakukan plagiat dan menjadi impostor!

Recommend0 recommendationsPublished in Legal

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *