Boleh ga sih merokok di kendaraan bermotor?

Salah satu kebiasaan yang mungkin jarang dijumpai di negara lain kecuali di indonesia ialah kebiasaan merokok sambil mengendarai kendaraan bermotor. Pertanyaan yang mungkin terlintas ialah, sebenarnya secara hukum kebiasaan ini dilarang atau tidak? Pada tahun 2019, sempat heboh masalah terkait peraturan yang melarang orang untuk tidak merokok ketika mengendarai kendaraan bermotor, juga kala itu heboh masalah mendengarkan musik pada saat mengendarai kendaraan bermotor.

Merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan PM. 12 tahun 2019 pasal 6c yang menyebutkan bahwa “Pengemudi dilarang merokok dan melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi ketika sedang mengendarai sepeda motor.” Peraturan inilah yang kemudian cukup mengehebohkan setelah ada seorang polisi juga yang menambahkan bahwa merokok ataupun mendengarkan lagu saat berkendara dapat dikenai pidana. Bila dilihat dalam UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebetulnya tidak ada pasal spesifik yang menyebutkan tentang merokok dan mendengarkan lagu dapat dikenai pidana, yang ada hanya pasal 106 UU LLAJ yang mengatakan bahwa, “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.” Ketentuan pidana dari pasal ini ialah pada Pasal 283 UU LLAJ yang mengatakan, “setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 750.000,-.“

Lalu apakah benar bahwa pengendara kendaraan bermotor tidak boleh merokok ketika berkendara? Jawabannya benar dan tidak. Benar, apabila pengendara motor tersebut merupakan pengemudi sepeda motor yang digunakan untuk kepentingan masyarakat. Dalam kata lain, ketika anda merupakan pengendara ojek online ataupun ojek konvensional, anda terikat dengan Permenhub PM. 12 tahun 2019, yang melarang anda untuk secara spesifik merokok saat berkendara, terutama saat sedang beroperasi. Namun, apabila anda merupakan seorang pengemudi biasa, pengemudi kendaraan pribadi bukanlah kendaraan untuk kepentingan masyarakat, maka anda tidak terikat dengan Permenhub tersebut. Baik pengemudi ojek maupun pengemudi kendaraan pribadi terikat pada UU LLAJ, selama anda berkendara di Jalan Raya.

Terkait dengan Peraturan pada UU LLAJ terutama pasal 106 ayat (1), harus dilihat apakah dengan merokok, konsentrasi anda pada saat berkendara menjadi hilang dan terganggu, apabila iya maka anda dapat dikenai pidana apabila tidak maka anda baik-baik saja.

Hanya saja yang jelas, merokok pada saat berkendara bukanlah anda yang rugi melainkan pengendara lain, karena abu dari rokok dapat mengganggu pengendara di belakang atau samping anda, yang bisa saja abu tersebut mengenai mata pengendara lain dan menyebabkan pengendara lain mengalami kecelakaan, atau ketika anda merokok sambil berkendara dan anda menjadi tidak fokus dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas maka anda dapat dikenai tindak pidana sesuai pasal 310 UU LLAJ yang berbunyi:

  1. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/ atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
  2. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).
  3. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rpl0.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
  4. Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
Recommend0 recommendationsPublished in Legal, Lifestyle, Pidana

Related Articles

Lindungi Rahasia Bisnis Anda dengan Pasal Kerahasiaan dalam Perjanjian Kerja

Saat memulai hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawan, perjanjian kerja merupakan dokumen yang menjadi dasar untuk mengatur hubungan kerja tersebut. Di mana, kontrak kerja atau perjanjian kerja ini berfungsi untuk melindungi para pihak, baik perusahaan maupun karyawan itu sendiri karena hak dan kewajiban masing-masing pihak tertulis jelas beserta hal-hal yang dapat mengakhiri hubungan kerja.

Pencemaran Nama Baik bagi Terduga Pidana

Beberapa hari ini masyarakat Indonesia telah geram tentang beredarnya video dengan konten bantuan sosial berupa sembilan bahan pokok (sembako) yang ternyata berisi sampah. Banyak orang yang mencaci maki pelaku karena tindakan tersebut dinilai tidak bermoral terutama dilakukan pada masa sulit ditengah – tengah pandemi ini. Menurut metro tempo Pelaku Pun saat ini dalam proses pemeriksaan karena diduga melanggar Pasal 36 jo 51 ayat 2 Undang – Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun. Dengan beredarnya video tersebut banyak masyarakat Indonesia yang mencaci maki pelaku baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun perlu dicatat bahwa tindakan pelaku belum melewati proses pengadilan.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *