#BoycottMulan VS #SupportMulan

Siapa yang suka sama princess Mulan dan excited pas tau Disney mengeluarkan Mulan Live Action? Film ini sempat ramai dibicarakan di social media, karena beberapa kontroversi yang kemudian diikuti dengan tagar #BoycottMulan. Sebenarnya, ada apa sih dengan film ini sampai banyak yang menggaungkan #BoycottMulan? Well, ada dua alasan utama yang menjadi latar belakang munculnya tagar dan gerakan ini.

1. Dukungan Aktris Liu Yifei Pemeran Mulan Terhadap Kebrutalan Polisi Hongkong.

Melalui salah satu social medianya, Weibo, Liu Yifei menyatakan dukungannya kepada polisi Hongkong “I also support the Hong Kong police” (Time, 2020). Sebagaimana yang dilansir dari Amnesty Internasional, lebih dari 1.300 orang ditangkap ketika sedang melakukan protes atas amandemen undang – undang yang mengizinkan ekstradisi ke mainland China. Penangkapan ini juga tidak sesuai dengan prosedur hukum (Amnesty International, 2019). Kebrutalan aparat terhadap penduduk sipil yang sedang melakukan protes hingga penangkapan yang tidak sesuai dengan prosedur hukum tentu merupakan bentuk pelanggaran HAM. Padahal menurut Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials, kekerasan dan senjata api boleh digunakan untuk menghentikan kekerasan dengan meminimalisir kecelakaan seperti luka hingga kematian, penggunaan kekerasan ini pun juga harus sesuai dan sepadan dengan objek. Artinya, penggunaan kekerasan dan senjata ini tidak bisa semena – mena dilakukan oleh aparat penegak hukum. Melihat data di lapangan serta ketentuan dalam hukum internasional, tentu menjadi pertanyaan besar mengapa aktris Liu Yifei turut memberikan dukungannya kepada Polisi Hongkong.

2. Film Credit kepada Pemerintah di Xinjiang

Di akhir film ini terdapat ucapan terimakasih kepada sederet otoritas di Provinsi XInjiang, dimana Provinsi Xinjiang sendiri diketahui terdapat pelanggaran HAM lainnya, yaitu penahanan dan cultural genocide terhadap etnis minoritas muslim Uyghur. Orynbek Koksebek (salah satu korban), menceritakan bahwa di dalam tahanan tersebut ia dipaksa untuk mempelajari bahasa CIna, menerima propaganda dan ideologi, hingga berbagai bentuk penyiksaan yang tersistematis (Time,2019). Ucapan terimakasih ini secara implisit menunjukkan dukungan Disney kepada Pemerintah Cina dalam melakukan pelanggaran HAM berat di Uyghur.

Namun, di satu sisi muncul counter-narratives dengan mengaungkan tagar #SupportMulan dengan berbagai macam alasan. Seperti bagaimana Mulan sendiri merupakan seorang pejuang yang berkorban untuk keluarga dan negara, dan bukan memecah belah bangsanya sendiri, atau para pemboikot yang mengalami ‘ideological paranoids’ (CNN Entertainment, 2019). Film Mulan sendiri dianggap sebagai simbol loyalitas seorang warga negara kepada negaranya. Mulan sendiri digambarkan sebagai perempuan muda yang tangguh dan berani untuk mengambil tindakan yang sangat beresiko. Tentu, karakter Mulan sangat mengagumkan sehingga tidak mengejutkan apabila princess Disney yang satu ini memiliki banyak penggemar.

Liu Yifei sendiri, sebagai pemeran Mulan, adalah salah satu aktris multitalenta. Selain berakting, Liu Yifei juga menguasai berbagai bahasa seperti Korea, Jepang, dan Inggris. Ia juga bisa menyanyi dan bahkan telah memproduseri beberapa album (Times Indonesia, 2019). Liu Yifei juga menguasai bela diri dan bahkan memerankan sekitar 90% adegan action langsung tanpa bantuan stunt, kemampuan dan kapasitasnya ini pun turut diacungi jempol oleh sutradara Mulan, Niki Caro (Entertainment Weekly, 2020). Menarik bukan? Terutama dengan pesan dari film ini sendiri yang menyuarakan women empowerment. Nah, narasi – narasi ini lah yang digunakan untuk menggaungkan tagar #SupportMulan.

Setelah melihat kontroversi antara #BoycottMulan dan #SupportMulan, bagaimana menurut sobat legalroom?

Credit Photo: Mulan, 2020 (IMDb)

Recommend0 recommendationsPublished in Reviews

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *