Buzzer!

Buzz! Buzz!

Kira-kira begitulah bunyi dari media sosial lama Yahoo! Messenger yang kini mungkin sudah tidak ada lagi. Yahoo! Messenger dikenal sebagai tempat chatting yang sering digunakan muda-mudi di tahun 2000 awal, selain MIRC tentunya. Salah satu fitur yang menarik dari media sosial ini ialah adanya fitur Buzz. Fitur ini persis seperti ping pada Blackberry Messenger, fungsinya ialah untuk menarik atensi lawan chatting ketika lawan chatting kita tidak membalas.

Buzz sendiri dalam Bahasa Inggris diartikan sebagai dengungan. Setelah lama tidak terdengar istilah Buzz dalam kehidupan media sosial karena kala itu Yahoo Messenger mulai tergantikan posisinya dengan Facebook dan Blackberry Messenger, istilah Buzz muncul kembali di era Twitter. Bukan menjadi fitur namun menjadi sebuah istilah yang sampai saat ini namanya kerap kali hadir di kehidupan media sosial.

Buzzer, begitulah sebutan bagi akun tanpa identitas/anonymous yang kerap muncul dengan komentar atau konten yang serupa. Buzzer awalnya merupakan sebuah strategi marketing yang kerap kali digunakan untuk mempromosikan sebuah produk melalui media twitter, agar produk tersebut mendapatkan exposure yang besar. Algoritma twitter sampai hari ini memang memberikan ruang bagi buzzer untuk tetap ada karena cara termudah untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu ialah dengan menjadikan informasi tersebut trending, dan cara untuk mencapai trending ialah dengan membuat sebanyak-banyaknya tweet mengenai informasi tersebut menggunakan hashtag tertentu.

Agar mudah dipahami, misalnya saja kita ingin orang mengenal produk kita yang bernama jelly. Kalau dalam 1 hari hanya ada 1 akun yang membahas tentang jelly kemungkinan produk tersebut baru dikenal oleh pengguna media sosial secara mayoritas akan sangat kecil, bahkan tidak sampai 5%, dan mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah dikenal orang, namun ketika kita menggunakan jasa buzzer, produk jelly tadi bisa dikenal oleh mayoritas pengguna media sosial hanya dalam waktu 2-3 hari tergantung biaya yang kita keluarkan dan kemampuan dari penyedia jasa buzzer ini. Simplenya buzzer merupakan influencer tidak nyata/digital yang dikendalikan atau dibuat oleh manusia.

Buzzer saat ini kerap dijadikan alat politik di Indonesia, tujuannya agar pengguna media sosial bisa diarahkan kepada satu informasi tertentu sesuai keinginan dari pengguna jasa buzzer tersebut. Buzzer biasanya dikendalikan oleh sebuah perusahaan atau sebuah kelompok kecil, kerjaannya cukup mudah mereka hanya tinggal membuat ratusan atau mungkin ribuan akun media sosial anonymous kemudian mulai menciptakan konten sesuai yang mereka mau di setiap akun tersebut. Dari ratusan atau ribuan akun tersebut muatan konten nya sama, meskipun dirangkai dengan kata atau bahasa yang berbeda tetapi muatannya sama, dan hanya untuk jangka waktu tertentu saja. Setelah tujuan dari penyebaran informasi tersebut tercapai maka seluruh akun anonymous tadi akan hilang atau dihapus, dan karena sifatnya yang sementara dan anonymous, bagi orang awam akan sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dapat menemukan pembuat dari akun-akun buzzer tersebut, pengguna jasanya dan berbagai macam informasi lainnya. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menemukan pengguna hingga penyedia jasa buzzer.

Pertanyaannya apakah pada dasarnya kegiatan buzzer itu ilegal? Jawabannya tidak. Buzzer tidak ilegal sama sekali selama memang tidak membuat konten yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Misalnya, ketika akun-akun buzzer tadi menyebarkan hoax jelas hal tersebut bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kemudian menyebarkan SARA, juga misalnya konten-konten asusila. Jadi selama tidak terjadi pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang maka keberadaan dari buzzer sah-sah saja, meskipun sebagai pengguna media sosial kita kerap kali dibuat kesal dengan keberadaan buzzer yang kerap menggiring kita menuju satu informasi tertentu.

Lantas bagaimana untuk mengidentifikasi suatu akun merupakan buzzer atau memang akun real? Mudah, bila dilihat buzzer akan berisikan pengikut dari akun buzzer lainnya, konten mereka juga monoton, bahasannya hanya mengenai satu topik/informasi saja dan tidak akan pernah ada konten lain selain informasi tersebut, lalu biasanya nama mereka akan diwarnai dengan huruf dan angka diikuti dengan foto profil mereka yang seringkali berasal dari google.

Keberadaan buzzer pada dasarnya dimaksudkan untuk menguntungkan tanpa merugikan pihak manapun, namun tidak jarang keberadaan buzzer ini ada juga yang merugikan beberapa pihak. Selama mereka tidak melakukan pelanggaran hukum apapun pada dasarnya keberadaan mereka sah-sah saja, ya hitung-hitung mewarnai kebebasan berpendapat di media sosial, namun apabila dirasa mengganggu tidak ada salahnya untuk memblokir akun buzzer yang mengganggu kita, atau kalau sampai dirasa melanggar ketentuan undan-undang, segera laporkan ke pihak berwajib ya.

Recommended1 recommendationPublished in Cyberspace, Misc, Reviews, Tech

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *