Fanfiction dan Hak Cipta

Orang-orang yang merupakan bagian dari suatu fandom biasanya tidak asing lagi dengan fanfiction atau fanfiksi. Fanfiction bisa merupakan cerita tentang karya orang yang ceritanya atau tokohnya diubah, atau eksplorasi lebih dalam dari cerita yang ada. Fanfiction bisa ditemukan di situs seperti fanfiction.net atau Archive of Our Own. Bahkan, fanfiction bisa menjadi cikal bakal novel yang diterbitkan secara luas seperti trilogi “50 Shades” oleh E.L. James. Dalam konteks Undang-Undang Hak Cipta Indonesia, apakah fanfiction sesuatu yang legal atau tidak?

Hak cipta merupakan salah satu hak kekayaan intelektual yang unik. Menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, hak cipta timbul secara otomatis. Hak cipta tidak perlu didaftarkan seperti Hak Merek.

Hak cipta sendiri melindungi dua jenis hak, yaitu hak moral dan hak ekonomi. Hak moral berkaitan dengan mencantumkan nama, baik asli maupun samaran, sebagai pencipta. Sedangkan hak ekonomi berkaitan dengan penerjemahan, penggandaan, dan penerimaan royalti jika ciptaan digunakan untuk kegiatan komersil. Hak moral tidak dapat dialihkan selama pencipta masih hidup, sedangkan hak ekonomi dapat dialihkan oleh pencipta.

Bab VI UU Hak Cipta mengatur mengenai pembatasan hak cipta. Pasal 44 menjelaskan bahwa penggunaan atau pengambilan suatu ciptaan baik secara keseluruhan atau sebagian, tidak melanggar hak cipta jika kegiatan tersebut bertujuan untuk penelitian, kritik, tidak dipungut biaya, dan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta. Sehingga, fanfiction pada intinya legal asalkan fanfiction tersebut tidak dipungut biaya dan tidak merugikan pencipta aslinya.

Lalu mengapa “50 Shades” dari E.L. James bisa diterbitkan secara komersil? Karena E.L. James tidak lagi menggunakan serial “Twilight” ciptaan Stephanie Meyer, atau tokoh-tokoh dari novel tersebut, sebagai latar novel “50 Shades”. Hal ini membuat “50 Shades” bukan lagi adaptasi “Twilight”.

Mengapa fanfiction dari karya William Shakespeare juga bisa diterbitkan secara komersil, meskipun masih menggunakan ciptaan Shakespeare dalam fanfiction tersebut? Ini karena hak ekonomi mempunyai batas waktu. Hak ekonomi pencipta di Indonesia berlaku hingga 70 tahun sejak pencipta meninggal, dan 95 tahun di Amerika Serikat. William Shakespeare sudah meninggal lebih dari tiga abad, sehingga mengambil keuntungan dari karyanya bisa bebas dilakukan.

Di sisi yang lain, hak moral tidak terbatas waktunya. Sehingga, meskipun William Shakespeare telah meninggal lebih dari seabad yang lalu, namanya akan tetap dicantumkan sebagai pencipta “Romeo and Juliet”. Seorang penulis fanfiction juga harus menuliskan bahwa ciptaannya merupakan fanfiction dari ciptaan Shakespeare.

Apakah fanfiction dilindungi oleh UU Hak Cipta? Tidak ada aturan dan definisi yang tegas mengenai fanfiction. Namun, Pasal 40 mengatur mengenai ciptaan yang dilindungi. Beberapa ciptaan yang dilindungi termasuk “adaptasi” serta “modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi”.

Penjelasan Pasal 40 huruf n UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menjelaskan adaptasi sebagai, “mengalihwujudkan suatu ciptaan menjadi bentuk lain. Sebagai contoh dari buku menjadi film.” Definisi ini menimbulkan beberapa masalah bagi perlindungan fanfiction. Pertama, tidak ada batasan dari apa yang dimaksud “bentuk lain”. Kedua, jika mengikuti contoh, apakah UU Hak Cipta hanya mengakui adaptasi jika adaptasi tersebut melibatkan perubahan media, seperti buku menjadi film, atau sebaliknya? Apakah Pasal 40 huruf n melindungi adaptasi dari bentuk buku cetak menjadi publikasi di internet?

Menurut penjelasan Pasal 40 huruf n, “karya lain dari hasil transformasi” adalah “merubah format Ciptaan menjadi format bentuk lain. Sebagai contoh musik pop menjadi musik dangdut.” Jenis ciptaan ini bisa diterapkan dalam fanfiction, terutama jika fanfiction tersebut mengubah genre dari fantasi ke drama, misalnya.

Meskipun perlindungan terhadap fanfiction tidak tegas di Indonesia dan beberapa negara lainnya, situs fanfiction mempunyai aturan sendiri bagi anggota-anggotanya. Dalam penulisan fanfiction pun ada etika tidak tertulis untuk tidak melakukan plagiarisme terhadap fanfiction yang ditulis orang lain. Perselisihan mengenai plagiarisme biasanya diselesaikan secara damai di antara para penulis fanfiction yang terlibat.

Intisari tulisan ini adalah, fanfiction tidak melanggar UU Hak Cipta di Indonesia, selama fanfiction tidak mengambil keuntungan ekonomi dan tidak mengganggu kepentingan wajar pencipta. Fanfiction bisa mengambil keuntungan komersil jika hak ekonominya telah berakhir, sesuai dengan batas waktu negara asal pencipta. Fanfiction tidak secara tegas dilindungi oleh UU Hak Cipta, tapi penulisan fanfiction memiliki etika tidak tertulis dan harus mengikuti aturan masing-masing situs fanfiction. 

Recommended1 recommendationPublished in Legal, Misc

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *