Fintech dan Keamanan Data Diri

Di masa pandemi seperti ini, hampir seluruh kalangan mengalami kesulitan dalam hal finansial, mulai dari yang gajinya belum dibayarkan, dipecat dari perusahaan, bahkan tidak sedikit wirausaha yang bisnisnya harus gulung tikar karena adanya pandemi ini. Di sisi lain, karantina yang harus dijalani oleh semua orang yang menyebabkan kurangnya produktivitas di luar rumah menyebabkan kita mulai bingung dan kehabisan ide untuk melakukan apalagi di rumah. Sosial media yang biasanya dibuka pada jam-jam tertentu, sekarang dibuka setiap saat dengan jeda hanya hitungan menit, belum lagi mendekati penghujung tahun banyak diskon menarik yang ditawarkan oleh e-commerce. Banyaknya pengaruh dari layar kaca menyebabkan kita mulai berpikir untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak sedang kita butuhkan dengan pemikiran bahwa pengeluaran selama di rumah tidak sebanyak pengeluaran ketika kita berada di luar. Padahal kita sering lupa bahwa semasa pandemi ini justru seharusnya kita menabung karena pemasukan yang kita dapat berkurang jauh dari biasanya dan justru harus ekstra hemat.

Kerap kali kita telat menyadari perilaku konsumtif kita terhadap barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, sehingga kita dengan mudahnya menekan tombol check out. Hasilnya adalah pengeluaran kita tidak seimbang bahkan jauh lebih banyak dari pemasukan yang kita peroleh. Tapi tenang jangan khawatir, ada banyak pilihan pinjaman daring yang bisa kita gunakan untuk membeli barang-barang yang kita inginkan, cicilannya kecil dan bunganya tidak sebesar bank konvensional. Setidaknya begitulah perkataan iklan-iklan aplikasi pinjaman online. Cukup pilih barang yang ingin kalian, cantumkan harganya, dan masukan data diri kalian beserta foto selfie dan ktp kalian.

Mudah bukan?

Sebagai orang awam kita melihat kemudahan ini sebagai sebuah keuntungan. Bagaimana tidak? Perilaku konsumtif yang telat disadari membawa kita pada keinginan yang lebih besar untuk terus berlaku demikian. Tanpa disadari perilaku tersebut memberi dampak adiktif bagi otak kita, menyebabkan kita harus terus menerus melakukannya dan sulit untuk bisa lepas. Dari yang awalnya inisiatif berujung kepada impulsif. Mungkin saja kita ingin berhenti, namun insting kita lama kelamaan dengan sendirinya akan mempengaruhi pikiran kita untuk tetap melakukannya. Jendela inilah yang digunakan mereka para perusahaan fintech berbasis pinjaman online. Jendela tersebut yang digunakan untuk masuk ke dalam data diri kita secara legal.

Jelas bahwa kita tidak akan pernah memberikan izin kepada pencuri untuk mengambil apapun dari dalam rumah kita bukan? Namun, hal ini yang tidak disadari masyarakat awam kebanyakan, bahwa mereka sudah membukakan pintu lebar-lebar dan mengizinkan para pencuri untuk mengambil segala data mereka. Orang dengan mudahnya memberikan data pribadi mereka seperti Nomor KTP, SIM, atau apapun beserta muka selfie mereka kepada aplikasi yang seringkali tidak diketahui asal dan legalitas dari aplikasi tersebut. Dan dari sinilah apapun yang kalian lakukan, internet akan mengetahuinya bahkan ketika anda sedang tidur.

Kita tidak pernah menyadari kegunaan informasi data diri yang sebegitu besar. Satu data tidak berarti apapun tapi ribuan data adalah segalanya. Kalian bisa mendapatkan apapun dengan ribuan data yang kalian punya, jual beli identitas, penipuan, pembajakan, apapun untuk mendapatkan uang. Data diri adalah sesuatu yang berharga bukan hanya bagi kita namun juga bagi para pengolah data di luar sana. Pinjaman 1 juta yang diberikan kepada anda, dapat kembali dalam hitungan menit kepada mereka yang mengambil data menggunakan data anda secara sembarangan. Di dunia dimana internet dan kebebasan informasi adalah segalanya, data bagaikan sebuah bintang, satu bintang di tengah hitamnya malam mungkin tidak menarik, namun bagaimana dengan ribuan bintang yang berkilau terang di tengah gelapnya langit malam? Indah bukan? Itulah data. Dan hal ini yang kerap kali dimanfaatkan oleh para pengolah data untuk sesuatu yang besar.

Oleh karenanya jangan sampai perilaku konsumtif kalian menyebabkan kewaspadaan kalian menurun sehingga dengan mudahnya memberikan data diri yang sangat berharga kepada orang lain secara cuma-cuma. Karena kita tidak pernah tahu apakah data kita aman atau tidak.

Recommend0 recommendationsPublished in Bisnis, Cyber Law, Legal, Tech

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kami ingin memberikan pemberitahuan untuk Kelas dan Info-info terbaru di legalroom.
Dismiss
Allow Notifications