kulit atau bulu hewan untuk fashion

  • kulit atau bulu hewan untuk fashion

     Iradhati Zahra updated 4 months, 3 weeks ago 2 Members · 3 Posts
  • Iradhati Zahra

    Member
    26 October 2020 at 8:30 pm

    Halo, izin bertanya. Apakah industri fashion (baik pakaian, aksesoris, sepatu, dll) dengan menggunakan kulit hewan termasuk sah secara hukum? Serta bagaimana pengaturannya di Indonesia? Mengingat, kelangkaan hewan jenis tertentu juga disebabkan oleh industri ini

    terimakasih 🙂

  • Sidiq Maulana

    Member
    25 November 2020 at 1:34 pm

    Halo Ka Ira, izin mencoba menjawab pertanyaannya secara singkat. Sebenarnya penggunaan kulit hewan di Indonesia sebagai bahan baku dalam industri fashion adalah sah secara hukum. Namun, tentu ada beberapa ketentuan dan larangan yang perlu kita cermati. Pengaturan mengenai pemanfaatan hewan sebagai sumber bahan baku industri ini salah satunya dapat kita lihat di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya dimana Pasal 36 Undang-Undang ini menyatakan bahwa :

    (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk:

    a. pengkajian, penelitian dan pengembangan;

    b. penangkaran;

    c. perburuan;

    d. perdagangan;

    e. peragaan;

    f. pertukaran;

    g. budidaya tanaman obat-obatan;

    h. pemeliharaan untuk kesenangan.

    (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

    Pasal ini menegaskan bahwa pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar diizinkan, termasuk dalam bidang perdagangan (yang mana industri fashion termasuk di dalamnya). Ayat (2) pasal tersebut menyebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut akan diatur melalui peraturan pemerintah. Dalam hal ini, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan Dan Satwa Liar melalui ketentuan Pasal 18 menyatakan bahwa :

    (1) Tumbuhan dan satwa liar yang dapat diperdagangkan adalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi.

    (2) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan perdagangan diperoleh dari :

    a.hasil penangkaran;

    b.pengambilan atau penangkapan dari alam.

    Pasal ini secara tidak langsung menegaskan bahwa terdapat larangan untuk memperdagangkan dan memanfaatkan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Hal ini ditegaskan juga secara spesifik dalam Pasal 21 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1990 yang menyatakan bahwa :

    (2) Setiap orang dilarang untuk :

    a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

    b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;

    c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

    d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

    e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi.

    Dalam poin d, secara jelas disebutkan bahwa terdapat larangan untuk memiliki, menyimpan atau memperdagangkan kulit tubuh atau barang yang dibuat dari bagian tersebut apabila kulit atau barang tersebut berasal dari satwa yang dilindungi. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pemanfaatan kulit hewan dalam industri fashion secara hukum Indonesia adalah sah selama tidak berasal dari satwa yang dilindungi. Demikian jawaban dari saya, semoga bermanfaat dan mohon koreksi Ka 🙂

  • Iradhati Zahra

    Member
    26 November 2020 at 9:19 am

    okee terimakasih atas jawabannya ya sidiq 🙂

Log in to reply.

Original Post
0 of 0 posts June 2018
Now
Kami ingin memberikan pemberitahuan untuk Kelas dan Info-info terbaru di legalroom.
Dismiss
Allow Notifications