History Akun Social Media di Internet, Bisa Dihapus Gak Ya?

Internet adalah media yang sudah lama ada di dunia. Internet datang dengan berbagai bentuk, seperti search engine yaitu Google dan Safari, aplikasi media sosial yaitu LINE, Whatsapp, Instagram, belanja online seperti Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan aplikasi transportasi seperti Gojek dan Grab. Untuk Legalroomates yang sudah berkuliah atau kerja, tentu tahu bahwa aplikasi-aplikasi yang disebutkan di atas adalah aplikasi yang tergolong baru. Sebelumnya pada tahun 2010-2014 saat internet mulai booming, kita bermain sosial media seperti Facebook, Twitter, ask.fm, dan sosial media lainnya. Saat itu mungkin kita masih berada di jenjang SD, SMP, SMA, atau kuliah. Pada tahun-tahun itu, sosial media tersebut merupakan hal baru sehingga kita bebas menggunakannya untuk mengobrol dengan teman-teman kita. Karena pada masa itu kita masih asing dengan hukum atau bahkan belum tahu dampak jangka panjangnya, kita membuat post, tweet, atau pertanyaan ask.fm yang sebebasnya, bahkan sesuatu yang terkesan memalukan. Setelah sosial media tersebut ditinggalkan dan digantikan sosial media baru seperti Instagram, tentu kita tidak log in ke akun lama kita dan bahkan sudah lupa dengan email dan password akun kita. Lalu bertahun-tahun kemudian kita iseng mencari nama kita di Google, informasi pada akun sosial media kita muncul di pencarian Google. Tentu kita merasa terkejut karena kita saja sudah lupa pernah membuat post atau tweet seperti itu. Kita mungkin merasa malu karena informasi tersebut bisa dibaca oleh orang lain dan kita sudah tidak punya akses ke akun itu. Apalagi ada kabar yang ditakuti orang-orang, yaitu ketika interviewer mencari informasi kita di internet. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Data pribadi menurut Pasal 1 angka 24 UU No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan adalah data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat, dan dijaga kebenarannya, serta dilindungi kerahasiaannya. Data pribadi itu bisa berupa nama, jenis kelamin, alamat email, sosial media, jenjang pendidikan, jabatan, dan sebagainya. Sebenarnya dalam Pasal 2 huruf c UU Administrasi Kependudukan, setiap warga layak atas perlindungan data pribadi. Tetapi dengan semakin banyaknya aplikasi sosial media, terutama aplikasi belanja online, data pribadi tersebut dikomersilkan kepada pihak ketiga. Proses pemutusan apakah data pribadi ini bisa diberikan kepada pihak ketiga disebut dengan data privacy atau privasi data. Inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita memfavoritkan atau memasukkan suatu barang kesukaan kita di Shopee, ketika kita membuka TikTok, ada video rekomendasi yang berisi barang yang kita favoritkan di Shopee. Serupa juga halnya ketika kita mau login ke suatu website seperti Canvas, kemudian langsung ada suggestion dari Google untuk login melalui akun Gmail, sehingga tidak perlu menginput email dan password lagi atau yang disebut dengan fast login. Tentu ini sebenarnya berbahaya, karena risiko kebocoran akan data tersebut tinggi. Apalagi kalau email tersebut adalah email utama. Untuk itu, Legalroomates sebaiknya login email dan password secara manual ya di setiap website!

Lalu bagaimana dengan persoalan di atas tentang data kita yang ada di sosial media lama tapi bisa dilihat orang lain? Persoalan ini ternyata bukan hanya sesuatu yang dikhawatirkan di Indonesia saja, Legalroomates! Di luar negeri juga mengalami persoalan serupa dimana penduduknya mengkhawatirkan data mereka seperti keputusan pengadilan dan sidang perkara cepat yaitu tilang kendaraan terlihat oleh orang-orang. Oleh karena itu, orang-orang ingin agar data mereka dihapuskan. Permintaan tersebut ternyata dapat dikabulkan, tetapi dengan prasyarat tertentu. Untuk penghapusan data di internet, ternyata tidak bisa dilakukan begitu saja. Indonesia belum mempunyai pengaturannya, tetapi beberapa negara di luar negeri sudah mengaturnya. Seperti di Uni Eropa, apabila pengguna ingin menghapus data yang menurutnya memalukan atau dengan alasan apapun, ternyata data tersebut baru bisa dihapus apabila sudah mengajukan permohonan ke Pengadilan. Pengadilan kemudian memutuskan apakah ingin mengabulkan permintaan tersebut atau tidak. Apabila pengadilan mengabulkan, maka pengadilan memberikan perintah kepada Google untuk menghapus data pemohon dari search engine. Google kemudian mereview request tersebut untuk memutuskan apakah Google akan menghapus data tersebut atau tidak.

Indonesia saat ini mempunyai RUU Perlindungan Data Pribadi yang akan disahkan November 2020 ini. RUU tersebut mengatur mengenai hal seperti kebocoran data pribadi. Kalau hal tersebut terjadi, maka berdasarkan RUU ini, pemberitahuan akan pelanggaran atau kebocoran data tersebut harus diberitahukan dalam jangka waktu 72 jam kepada pemilik data dan Kemenkominfo oleh pengendali data pribadi tersebut. Ini tentu meningkatkan keamanan bagi penduduk Indonesia atas ancaman kebocoran data yang bisa dieksploitasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Melihat betapa rumitnya proses penghapusan tersebut, akan lebih bijak kalau mulai dari sekarang Legalroomates memperhatikan ya apa yang ingin kita post di internet! Jejak digital akan ada di google dalam jangka waktu lama dan tentu akan mengganggu kita yang sudah lupa pernah membuat post sesuatu. Semoga menjadi pembelajaran ya Legaroomates!

Recommend0 recommendationsPublished in Legal, Lifestyle, Tech, Tips

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications