Ingin Usaha Laundry? Pikir Pikir Lagi Deh!

“Tangan kamu kasar amat, kaya tukang cuci baju.” Pernah dengar kalimat tersebut? Kalimat yang cukup familiar yang diucapkan oleh pasangan muda-mudi di era 90an hingga 2000an awal ketika bergandengan tangan dengan kekasihnya. Kalimat tersebut cukup sering dilontarkan oleh laki-laki kepada perempuan, karena stigma di masyarakat kita saat itu bahwa perempuan haruslah memiliki kulit yang mulus dan bersih. Dan benar bahwa terlalu banyak bermain air berisikan deterjen mampu membuat kulit kita yang mulus berubah menjadi agak kasar.

Semenjak tahun 2010 ke atas, sepertinya kita telah jarang mendengar lelucon tersebut karena sudah jarang ditemukan muda-mudi yang masih mencuci baju sendiri. Di tahun tersebut bisnis laundry baju sudah cukup menjamur, terutama di kota-kota besar dan kawasan pendidikan. Bisnis laundry sampai sebelum adanya pandemi Covid-19 memang merupakan bisnis yang cukup menjanjikan, kenapa? Karena bisnis tersebut menyediakan jasa yang memudahkan kebutuhan hidup kita. Laundry memudahkan setidaknya 50% dari tugas kita sehari-hari terutama terkait kebersihan sandang. Waktu dan tenaga yang kita harus habiskan untuk mencuci, menjemur hingga merapikan baju setidaknya bisa dialokasikan untuk hal lain berkat adanya laundry.

Tetapi, apakah bisnis laundry ini bisnis yang ramah lingkungan?

Berdasar pada ketentuan peraturan perundangan yakni Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tepatnya Pasal 1 angka 14 menyebutkan bahwa, “Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.” Kemudian, Pasal 1 angka 16 menyebutkan, “Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.”

Menurut kedua pasal tersebut maka dapat dikatakan bahwa usaha laundry melakukan pencemaran lingkungan hidup yang dapat berdampak pada kerusakan lingkungan hidup, mengapa demikian? Laundry setiap hari dapat mencuci lebih dari 10 kg baju perhari, dalam mencuci tersebut setiap usaha laundry pasti akan menggunakan cairan pewangi, atau yang kita kenal dengan cairan deterjen untuk membersihkan noda-noda pada pakaian. Pada dasarnya sebenarnya cairan deterjen yang telah dicampur dengan air lalu digunakan sebagai cairan untuk membersihkan baju akan menjadi limbah nantinya. Limbah tersebut akan dibuang melalui saluran air menuju air ataupun tanah tergantung letak lokasi berdirinya usaha tersebut dan dimana hilir saluran tersebut ditempatkan.

Katakanlah, saluran berisikan limbah tadi hilirnya ada di tanah, maka limbah cair hasil dari deterjen tadi akan dibuang ke media tanah, tanah akan meresap air tersebut hasilnya adalah limbah tersebut akan menurunkan baku mutu tanah yang mampu merusak tanah dan mematikan unsur hara dalam tanah yang berguna bagi tumbuhan hidup di sekitar tanah tersebut. Apabila hilir dari saluran tersebut terdapat pada sungai, atau media air mengalir maka berbahaya bagi orang yang menggunakan air tersebut untuk kehidupan sehari-hari dan air sungai yang nantinya akan berhilir ke selat atau ke laut akan mencemari selat atau laut yang akan berpengaruh bagi kehidupan mahluk hidup di dalamnya.

Beruntungnya, pada saat pembuatan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang jadi sasaran utama dari pemerintah dalam perusakan lingkungan ialah korporasi/badan hukum, jadi bukanlah perseorangan atau badan usaha kecil. Karena memang ada batas baku mutu yang dijadikan acuan kerusakan lingkungan dan baku mutu yang ditetapkan dalam peraturan tersebut sangat kecil kemungkinannya dapat dicapai oleh orang perseorangan atau usaha kecil, baku mutu tersebut hanya dapat dilewati batasnya oleh korporasi/badan hukum yang melakukan jumlah produksi yang berpengaruh pada kerusakan lingkungan yang sangat besar.

Tetapi, pernahkah kita berpikir demikian apabila dalam satu hari ada satu orang yang membakar satu pohon di hutan, berapa banyak pohon dalam satu hutan yang terbakar dalam satu tahun? Kemudian ketika orang merasa hal tersebut merupakan kenormalan atau hal yang wajar, lalu ada 20 orang yang membakar 20 pohon dalam satu hutan, berapa hutan yang terbakar dalam satu tahun? Maksudnya adalah, betul bahwa skala kecil tidak akan menimbulkan kerusakan yang berarti, namun ketika hal tersebut dilakukan terus menerus dan dicontoh kemudian dijadikan kewajaran maka skala kecil tadi bisa menjadi besar dan dampaknya akan sama seperti limbah satu perusahaan besar yang berasal dari orang perorangan.

Bukan artinya tidak boleh untuk buka dan menggunakan usaha laundry, namun sepertinya pengawasan terhadap jenis usaha ini di tiap daerah perlu mendapat perhatian lebih, karena sangat mungkin terjadi kerusakan lingkungan akibat menjamurnya usaha laundry yang tidak dibatasi oleh pemerintah, sementara keberadaan peraturan perundang-undangan yang ada belum mampu menindak tegas setiap perseorangan yang bukan badan hukum/korporasi ketika melakukan perusakan lingkungan. Oleh karenanya, baik pemerintah perlu melakukan langkah tegas dalam membatasi bidang usaha ini, dan bagi pemilik usaha perlu pula adanya self-awareness akan kerusakan lingkungan.

Karena lingkungan ada bukan hanya untuk kita yang menikmati namun juga generasi selanjutnya.

Recommend0 recommendationsPublished in Bisnis, Lifestyle

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *