Kenapa Amerika Serikat Menuntut Google, dan Respon Google

Siapa yang gak tahu Google sih? Google merupakan suatu search engine atau alat pencari. Google sangat terkenal sampai kalau kita ingin mencari sesuatu, biasanya kita akan ngomong “Google aja”. Kata googling bahkan masuk dalam kamus online Merriam-Webster. Tapi kalian pernah mikir gak sih, kenapa Google gede banget, atau ada gak search engine selain Google?

Pada 20 Oktober 2020, U.S Department of Justice (Departemen Kehakiman, disingkat DOJ) menuntut Google secara sipil. DOJ menuntut Google atas pelanggaran terhadap aturan antitrust yang diatur melalui “Sherman Act”. Antitrust law sendiri jika diterjemahkan adalah hukum antipakat, yang berkaitan dengan regulasi yang melindungi konsumen dari tindakan monopoli. Tidak hanya DOJ tingkat federal yang menuntut, tapi juga 11 negara bagian yang diwakili oleh jaksa agung masing-masing. 11 negara bagian tersebut antara lain: Arkansas, Florida, Georgia, Indiana, Kentucky, Louisiana, Mississippi, Missouri, Montana, South Carolina, dan Texas.

Berdasarkan press release dari DOJ, departemen tersebut menuduh Google telah melakukan, “…unlawfully maintaining monopolies through anticompetitive and exclusionary practices…”. Atau, melakukan tindak monopoli yang tidak sah melalui tindakan anti-kompetitif dan eksklusif. DOJ menuduh Google melakukan tindakan monopoli dalam 3 bidang, yaitu:

  1. General search engine (alat pencarian secara umum);
  2. Search advertising (basically iklan online);
  3. General search text advertising markets (pasar untuk iklan yang ditaruh di bawah atau di atas hasil pencarian);

DOJ menuduh Google menghalangi pesaing secara kualitas, jangkauan, dan keuangan. DOJ menjelaskan bahwa salah satu strategi Google adalah melakukan perjanjian dengan Apple dan Android. Inti perjanjian Google dengan Apple dan Android adalah Google menjadi mesin pencari default. Perjanjian-perjanjian tersebut membuat kompetitor Google mengalami kesulitan dalam mendistribusikan produk mereka baik di Apple maupun di Google.

DOJ juga menulis suatu ironi, karena Google dulu menuduh Microsoft melakukan monopoli 25 tahun yang lalu, di kasus United States v. Microsoft. William Barr selaku jaksa agung A.S. berkomentar bahwa hasil kasus itu memberikan kesempatan bagi pesaing Microsoft untuk berkembang (Barr, 2020). Kemunculan pesaing Microsoft memberikan kesempatan bagi Google untuk mengembangkan lebih lanjut produk mereka, sehingga mereka jadi perusahaan raksasa sekarang.

Ada beberapa akibat dari tindakan yang dituduhkan Google. Akibat tersebut antara lain:

  1. Google bisa menetapkan harga iklan seenaknya untuk pemasang iklan;
  2. Mengurangi saluran distribusi bagi pesaing, yang mengakibatkan konsumen memiliki sedikit pilihan;
  3. Konsumen atau pengguna terpaksa mengikuti kebijakan Google;
  4. Mengurangi kualitas layanan general search;
  5. Menghalangi inovasi.

Google memberikan respon yang diwakili oleh Kent Walker di blog mereka. Google pertama-tama menyatakan bahwa tuntutan ini merupakan tuntutan yang memiliki banyak kecacatan. Google juga berani menyatakan bahwa tuntutan ini tidak akan membantu konsumen.

Google menyatakan bahwa meskipun mereka adalah search engine yang paling terkenal, masih ada search engine lain seperti Bing, Yahoo, dan DuckDuckGo. Ini juga ikut membantah bahwa konsumen tidak punya pilihan lain.

Mengenai perjanjian mereka dengan Apple dan Android, Google menyatakan bahwa perjanjian mereka tidak berbeda dengan perjanjian yang dilakukan oleh pihak lain. Contohnya, Microsoft melakukan kerja sama dengan Bing. Sehingga, jika kalian punya aplikasi Microsoft Edge, mesin pencari default-nya adalah Bing. Selain itu, Yahoo dan Bing juga bayar untuk muncul di aplikasi browsing milik Apple, yaitu Safari. Aplikasi lain seperti Facebook, yang Google nyatakan sebagai pesaing mereka, juga sudah preloaded atau diunduh sebelumnya di Android. Google menyatakan juga meskipun Google adalah mesin pencari default di Apple dan Android, pengguna keduanya bisa mengubah setting tersebut.

Meskipun benar bahwa Google bukan satu-satunya search engine, pasar Google di Amerika sendiri sangat besar. Menurut laporan DOJ, Google memegang 88% pasar Amerika Serikat, diikuti Bing yang kurang dari 7%, Yahoo! yang kurang dari 4%, dan DuckDuckGo yang kurang dari 2%. Penulis beropini bahwa Google tidak punya pesaing yang berarti. Alasan Google bahwa Facebook juga preloaded di Android juga seperti bentuk whataboutism, suatu kesalahan berpikir yang menuduh orang lain melakukan kesalahan, tapi sebenarnya tidak membenarkan kesalahan itu sendiri. Di sisi lain, benar bahwa pengguna bisa mengubah default search engine dari Google menjadi yang lain. Jika DOJ gagal membuktikan bahwa perjanjian Google dengan Android dan Apple bersifat eksklusif, maka DOJ bisa mengalami masalah besar.

Sumber:

DOJ. (2020). Retrieved from https://www.justice.gov/opa/press-release/file/1328941/download

Recommend0 recommendationsPublished in Legal, News, Tech

Related Articles

Lindungi Rahasia Bisnis Anda dengan Pasal Kerahasiaan dalam Perjanjian Kerja

Saat memulai hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawan, perjanjian kerja merupakan dokumen yang menjadi dasar untuk mengatur hubungan kerja tersebut. Di mana, kontrak kerja atau perjanjian kerja ini berfungsi untuk melindungi para pihak, baik perusahaan maupun karyawan itu sendiri karena hak dan kewajiban masing-masing pihak tertulis jelas beserta hal-hal yang dapat mengakhiri hubungan kerja.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kami ingin memberikan pemberitahuan untuk Kelas dan Info-info terbaru di legalroom.
Dismiss
Allow Notifications