Kerjasama Diplomat dan Intelijen Dalam Berkomunikasi

Setiap negara tentu tidak ingin kalah dalam perundingan. Untuk mencapai kemenangan, diperlukan keluasan pengetahuan, wawasan, dan kecerdasan sang diplomat yang terlibat dalam perundingan. Di sini terasa perlunya kerja sama antara diplomat dan intelijen. Meski pengumpulan informasi sudah diatur oleh Konvensi Wina, pada kenyataannya, di setiap kantor kedutaan ditempatkan sejumlah intelijen untuk membantu keberhasilan tugas-tugas diplomatik.

Menganalisis tujuan diplomasi memerlukan informasi akurat, lengkap dan jelas dari sumber primer sebagai pisau analisis yang akan membedahnya. Untuk mendapatkan informasi semacam itu, tidaklah mudah. Diperlukan dukungan jasa intelijen yang berani masuk ke sarang lawan untuk mencari informasi yang diperlukan dari pihak lawan arah dari sumber terdekatnya. Di sini terasa betapa diplomat dan intelijen perlu bekerja sama. Informasi intelijen yang akurat sangat penting untuk digunakan sebagai ‘senjata’ bagi diplomat dalam menundukkan lawannya.

Mengumpulkan informasi di suatu negara dengan segala cara yang sah dan melakukan analisis serta melaporkan informasi ke negara pengirim, bukanlah kegiatan yang melanggar Pasal 3 Ayat 1d Konvensi Wina 1961 menyebutkan. “Memperoleh Informasi dengan segala cara yang sah tentang keadaan dan perkembangan di negara penerima dan melaporkannya kepada pemerintah negara pengirim”. (Ascertaining, by all lawful means, conditions and developments in the receiving state and reporting thereon on the government of the sending state). Tetapi, melakukan kegiatan spionase dilarang.

Kendati demikian, mengingat dunia diplomasi kerap diwarnai dengan kelicikan, tipuan, dan jebakan, untuk menghindarkan diri dari kelicikan dan jebakan pihak lawan, diplomat harus menguasai informasi yang diperlukan untuk tujuan itu. Mengandalkan informasi intelijen saja kadang-kadang belum cukup. Para diplomat dituntut juga untuk memiliki kualitas dan integritas pribadi yang unggul, seperti kecerdasan, kejelian, kepekaan, ketelitian, kehati-hatian, ketekunan. Mampu berpikir kritis analitis, menguasai pengetahuan tentang berbagai perkembangan yang up to date, serta wawasan yang luas, untuk bersiasat di medan diplomasi.

Kegiatan diplomasi kadang-kadang juga bagai sedang bermain biliar. Bola yang satu disodok untuk mengenai bola yang lain dengan tujuan tertentu. Fenomena biliar ini pernah dialami oleh KBRI. Seorang staf lokal belajar untuk menjadi tenaga ahli Indonesia di salah satu kantor KBRI. Ia digalang untuk meningkatkan kerja sama dengan KBRI di negara tersebut. Asumsi yang akan berkembang di KBRI adalah suatu saat ia akan diperlukan oleh instansi di negaranya mengenai hal-hal yang bertalian dengan indonesia, sekurang-kurangnya sebagai penerjemah. Selang beberapa lama, asumsi tersebut terbukti, presiden negara tersebut mengadakan kunjungan resmi ke Indonesia. Sekurang-kurangnya sebagai penerjemah. Selang beberapa lama, asumsi tersebut terbukti presiden negara tersebut melakukan kunjungan resmi ke Indonesia (yang sebelumnya selalu menolak undangan untuk berkunjung ke Indonesia karena beranggapan bahwa Indonesia adalah rezim militer. Ternyata, mantan staf lokal tersebut diikutsertakan dalam kunjungan sebagai penerjemah.

Pada situasi lain, begitu banyak orang dari berbagai kewarganegaraan meminta visa ke KBRI untuk berkunjung ke Indonesia. Padahal, di Indonesia sedang sibuk menghadapi pemilihan umum dan waktu itu tidak ada kegiatan ekonomi yang dapat dijadikan alasan untuk meningkatkan arus kunjungan wisatawan. Sesudah pemilu selesai, arus kunjungan wisatawan itu mereda.

Di sini timbul pertanyaan: siapakah sebenarnya staf lokal yang ingin menjadi Indonesianis itu? Siapakah sebenarnya wartawan yang mewawancarai pejabat tinggi India itu? Siapakah sebenarnya wisatawan yang berkunjung ke Indonesia saat pemilu berlangsung itu? Meski kita tidak punya bukti faktual, secara sederhana dapat dipastikan bahwa mereka adalah intel yang ditugaskan untuk mendukung misi diplomatik.

Dengan begitu, gerakan diplomatik adalah segmen dari tujuan, umumnya segmen itu tidak berdiri sendiri. Tujuan adalah hasil karya pikiran yang nantinya akan diperlakukan dengan berbagai tindakan. Oleh karena itu, seorang diplomat perlu pandai-pandai merangkai peristiwa yang satu dengan yang lain yang mempunyai relevansi. Ini dapat diibaratkan sebagai tangan-tangan gurita. Tangan gurita tidak mempunyai organ untuk dapat mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh tangan lainnya, tetapi tangan itu tidak bekerja sendiri secara independen. Otak gurita itulah yang memimpin gerakan semua tangannya dan mengkoordinasikannya melalui saraf dan otot.

Bentuk-bentuk kerahasiaan merupakan sasaran penting bagi operasi rahasia dan memerlukan teknik-teknik tertentu sehingga kerahasiaan bisa diciptakan dan dipertahankan. Sesuatu yang terbuka bisa dijadikan sesuatu rahasia dan sesuatu yang tertutup atau klandestin haruslah sesuatu yang rahasia. Namun, sesuatu yang rahasia tidak selalu harus tertutup atau klandestin dan sesuatu yang klandestin tidak selalu harus tertutup, demikian pula sebaliknya.

Recommend0 recommendationsPublished in Cyberspace, Legal

Related Articles

Perlindungan Industri Pariwisata dan Travel Haji Umrah pada pandemi COVID-19

Dengan adanya kebijakan PSBB yang memberikan masyarakat untuk #dirumahaja dan meminimalisir kegiatan perjalanan apalagi berpindah kota guna meminimalisir penyebaran virus. Sektor Industri pariwisata haji dan umroh pun turut terpukul dengan adanya larangan dari arab saudi untuk kegiatan Umroh dan Haji khusus untuk negara Indonesia sehingga banyak perusahaan – perusahaan travel haji dan umroh mengalami stagnasi hingga permasalahan ini selesai.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kami ingin memberikan pemberitahuan untuk Kelas dan Info-info terbaru di legalroom.
Dismiss
Allow Notifications