Legal Halloween Edition #1: Anneliese Michel Case

Content Warning: artikel ini mungkin akan memiliki detail yang mengganggu

Penggemar horror stuffs pasti pernah dengan Anneliese Michel. Anneliese adalah seorang perempuan Jerman yang meninggal 1 Juli 1976. Penyebab kematian resminya adalah kelaparan atau starvation. Kasusnya sangat populer karena dua pastor yang terlibat dalam proses pengusiran setan atau exorcism, dihukum Pengadilan Jerman karena telah bertindak lalai yang mengakibatkan kematian atau negligence homicide or manslaughter. Saking populernya, cerita Anneliese Michel diangkat menjadi film yang berjudul “The Exorcism of Emily Rose”. Sisi horor kasus Michel sangat populer, tapi bagaimana dilihat dari sisi hukum?

Sebelumnya, kita lihat latar belakang Anneliese Michel (AM). Menurut Wikipedia, AM lahir di keluarga Katolik yang religius. Kadang, ia bahkan menghadiri misa Katolik sebanyak dua kali dalam seminggu (kecuali ada hari raya, baik orang Katolik maupun Protestan cenderung ke gereja hanya sekali seminggu). Menurut podcast “Casefile True Crime”, orang tua AM, Josef dan Anne Michel, tipe orang tua yang sangat mengontrol kehidupan anaknya. Mereka melarang anak perempuan mereka untuk bergaul dengan laki-laki, bahkan menentukan baju apa yang akan mereka pakai.

Pada Juni 1970, AM mengalami kejang-kejang di rumah sakit jiwa. Menurut Felicitas Goodman dan John Duffey, para penulis buku yang mendalami kasus AM, AM mengunjungi Dokter Lenner untuk psikoterapi. AM bercerita kepada Dokter Lenner mengalami mimpi-mimpi buruknya. Baik Duffey maupun Goodman menyatakan bahwa Dokter Lenner percaya orang tua AM cukup keras dan ada kemungkinan malah menyulitkan posisi AM untuk mendapatkan bantuan psikologi. Dokter Lenner mendiagnosa bahwa AM memiliki gangguan jiwa, yang kemungkinan Neurosis. Selain itu, AM juga pernah didiagnosa memiliki epilepsi, atau mengalami gejala epilepsi.

Keadaan AM semakin parah. Pada tahun 1973, AM mulai mengalami halusinasi ketika berdoa. AM juga “gerah” dengan simbol-simbol agamanya sendiri. Meskipun AM diberikan berbagai obat untuk mengatasi kondisinya, AM meminum urinnya sendiri, memakan serangga, dan melakukan self harm. Menyerah, keluarga AM meminta tolong pada gereja. Menurut Michael Getler di “The Washington Post”, AM pertama kali dinyatakan mengalami possession atau kerasukan setan oleh Father Ernest Alt, pendeta dari paroki lokal. Uskup Josef Stangl tadinya ragu memberikan izin untuk melakukan exorcism, tapi akhirnya izin diberikan.

Father Arnold Renz melakukan proses exorcism pertamanya terhadap AM pada 24 September 1975. Exorcism dilakukan setidaknya satu jam, sekali atau dua kali dalam seminggu. At this point, orang tua AM menghentikan proses penyembuhan AM secara medis. Orang tua AM tidak lagi berkonsultasi kepada dokter atau memberikan obat kepada AM. Porsi makan AM makin sedikit hingga akhirnya ia berhenti makan.

Anneliese Michel akhirnya meninggal pada 1 Juli 1976. Ketika ia meninggal, beratnya hanya 30 kilogram. Berdasarkan hasil otopsi, ia meninggal karena kelaparan. Tidak hanya kelaparan, lututnya juga patah karena berlutut di atas lantai terus-menerus. AM juga terkena pneumonia, atau penyakit paru-paru, ketika ia meninggal. Ernest Alt, Arnold Renz, dan orang tua AM dituntut melakukan manslaughter terhadap Anneliese.

Dalam hukum pidana Jerman, negligent homicide diatur dalam Section 222 German Criminal Code yang berbunyi:

Whoever causes a person’s death by negligence incurs a penalty of imprisonment for a term not exceeding five years or a fine.”

Sayangnya tidak ada detail mengenai unsur-unsur kejahatan tersebut. Tapi berdasarkan teori pidana umum, pembunuhan karena kelalaian (negligent killing atau manslaughter), biasanya diartikan sebagai pembunuhan yang dilakukan tanpa maksud jahat atau perencanaan. Salah satu kategori manslaughter adalah tindakan pembunuhan yang disebabkan tindakan yang legal, tapi dilakukan secara tidak pantas, atau tanpa izin pihak yang berwenang. Manslughter yang terjadi pada AM termasuk kategori itu.

Dalam proses pengadilan, hampir semua dokter menyatakan bahwa AM meninggal bukan karena kerasukan setan, tapi karena ia kelaparan, gangguan jiwa, dan lingkungan yang terlalu religius. Seluruh terdakwa tetap yakin bahwa Anneliese mengalami kerasukan setan. Salah satu kuasa hukum terdakwa berargumen bahwa exorcism merupakan tindakan yang legal. Para terdakwa juga memiliki rekaman suara di mana Anneliese berbicara secara aneh dan mengaku dirinya dirasuki beberapa setan seperti Nero dan Lucifer. Akhirnya, seluruh terdakwa dinyatakan bersalah melakukan manslaughter.

Regardless apakah AM mengalami kerasukan setan atau tidak, penulis setuju bahwa para terdakwa telah lalai menangani AM. AM tidak pernah dibawa ke rumah sakit setelah ia berhenti makan, atau setidaknya meminta tenaga medis untuk memaksa AM makan (force feeding). Keadaan lapar inilah yang menjadi penyebab matinya AM. Selain itu, meskipun benar keadaan AM tidak lebih baik dengan adanya pengobatan, AM berhenti makan secara parah setelah pengobatannya dihentikan dan ia di-exorcise berjam-jam dalam seminggu. Lututnya yang patah diasumsikan karena ia dalam posisi berdoa-doa terus-menerus. Ada implikasi bahwa pada akhirnya, exorcism pun tidak membantu kondisi AM dan memperburuk keadaannya.

Di sisi lain, kita juga harus adil terhadap orang tua AM. Teknologi dan pengetahuan tahun 1970-an tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan era ini. Kita tidak bisa men-judge mereka untuk akhirnya meminta tolong pada institusi di luar medis. Sekarang, ada bukti yang mengimplikasikan bahwa orang yang mengalami gejala possession sebenarnya memiliki anti-NMDAR encephalitis. Keanehan rekaman suara AM juga sulit dijelaskan secara logis. Selain itu, tidak hanya terdakwa yang lalai. Felicitas Goodman menulis bahwa beberapa dokter yang menangani kasus AM menulis diagnosa secara tidak benar dalam rekam jejak medisnya. AM yang baru mengalami gejala epilepsi, dinyatakan secara pasti memiliki epilepsi. Kesalahan diagnosa tentu saja membuat AM diberikan obat yang tidak benar dan memperburuk kondisi kesehatannya.

Sumber:

Duffey, John M., Lesson Learned: The Anneliese Michel Exorcism, 2011.

Goodman, Felicitas, The Exorcism of Anneliese Michel, 2005.

Recommend0 recommendationsPublished in Misc, Pidana

Related Articles

Penundaan Pembayaran THR Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Di tengah kondisi bencana non-alam yang sedang terjadi, perusahaan-perusahaan banyak yang mengalami krisis, baik dari sisi usaha, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Sebagian besar pengusaha mengalami kekhawatiran akan keberlangsungan usaha mereka. Begitu pula bagi para karyawan, mereka khawatir akan turunnya gaji dan tunjangan mereka. Terlebih lagi, waktu-waktu ini adalah masa menjelang Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *