Limbah Medis Covid-19, Dibuang Kemana Ya?

“Saya sih khawatir sebenernya, tapi ya, gimana saya harus nyuci di sini”, sahut Eka Purwanti, warga sekitar Sungai Cisadane yang menanggapi peristiwa runtuhnya tembok Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Tangerang. (The Jakarta Post, September 2020)

Seperti yang dilansir oleh The Jakarta Post, runtuhnya tembok ini kemudian mengirimkan berton-ton sampah langsung ke Sungai Cisadane, termasuk limbah medis sisa penanganan Covid-19.

Wah, coba sobat legalroom bayangkan, bagaimana jadinya jika limbah medis yang kemungkinan besar membawa virus SARS-COV-2 lalu mencemari sungai yang sehari-harinya dimanfaatkan oleh warga sekitar? Mengerikan bukan?

Lalu, seperti apa sih limbah medis itu?

Limbah medis adalah salah satu dari jenis Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun atau yang biasa dikenal dengan Limbah B3. Menurut Pasal 1 Angka 1 PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, yang dimaksud dengan Limbah B3 adalah:

“Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.”

Menurut buku panduan penanganan limbah medis yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan RI, penanganan ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Air limbah Covid-19: adalah semua air buangan yang berasal dari kegiatan penanganan pasien Covid-19 yang kemungkinan mengandung mikroorganisme virus SARS-COV-2. Seperti misalnya: air tinja, bahan kimia beracun, darah dan cairan tubuh lain, serta cairan yang digunakan dalam kegiatan isolasi pasien, dll.
  2. Limbah padat domestik: adalah limbah yang berasal dari kegiatan kerumahtanggaan atau sampah sejenis, seperti sisa makanan, kardus, kertas, dan sebagainya baik organik maupun anorganik. Adapun limbah padat khusus (masker, sarung tangan, dll.) diperlakukan seperti limbah B3 infeksius
  3. Limbah B3 medis padat: adalah barang atau bahan sisa hasil kegiatan yang tidak digunakan kembali yang berpotensi terkontaminasi oleh zat yang bersifat infeksius atau kontak dengan pasien dan/atau petugas di Fasyankes yang menangani pasien Covid-19, meliputi: masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, tisu bekas, plastik bekas minuman dan makanan, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, set infus bekas, Alat Pelindung Diri bekas, dll.

Lalu, apa yang harus dilakukan dengan ketiga jenis limbah medis tersebut?

Aturan teknis mengenai penanganan limbah medis secara detail telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No P.56/MENLHK-SETJEN/2015 Tentang tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Secara singkat, Poin 2 Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.S.167/MENLHK/PSLB.3/3.2020, menetapkan terdapat 3 teknis yang harus dilakukan dalam menangani Limbah B3, yaitu:

a. Identifikasi, pemilahan dan pewadahan:

  1. Setiap penghasil limbah wajib melakukan identifikasi untuk semua limbah yang dihasilkannya.
  2. Melakukan pemilahan dan pengemasan LB3 berdasarkan karakter infeksius dan patologis.
  3. Bahan kimia dan farmasi kadaluarsa, tumpahan atau sisa kemasan

b. Penyimpanan Limbah

  1. Penyimpanan dilakukan sesuai karakter dan pengemasan.
  2. Khusus limbah infeksius disimpan paling lama 2 hari hingga dimusnahkan bila pada suhu kamar atau 90 hari hingga dimusnahkan bila suhu 0°C

c. Pemusnahan

  1. Pemusnahan dengan pembakaran menggunakan incinerator yang dioperasionalkan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) atau pihak jasa pengolah limbah medis berizin.
  2. Incinerator memiliki ruang bakar dengan suhu minimal 800°C.

Nah, jadi begitulah kira – kira penanganan limbah medis Covid-19 yang ideal. Hal ini tentu demi keamanan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar wilayah pembuangan limbah. Kalau menurut teman – teman gimana?

Recommend0 recommendationsPublished in Legal, Lifestyle, Misc

Related Articles

Perlindungan Industri Pariwisata dan Travel Haji Umrah pada pandemi COVID-19

Dengan adanya kebijakan PSBB yang memberikan masyarakat untuk #dirumahaja dan meminimalisir kegiatan perjalanan apalagi berpindah kota guna meminimalisir penyebaran virus. Sektor Industri pariwisata haji dan umroh pun turut terpukul dengan adanya larangan dari arab saudi untuk kegiatan Umroh dan Haji khusus untuk negara Indonesia sehingga banyak perusahaan – perusahaan travel haji dan umroh mengalami stagnasi hingga permasalahan ini selesai.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *