Sistem Elektoral Amerika Serikat 101

3 November merupakan hari H pemilihan umum Amerika Serikat. Sebelum 3 November, beberapa penduduk A.S. telah memilih melalui voting by mail, di mana mereka melakukan pemilihan suara yang lalu dikirim ke tempat penghitungan melalui pos. Bagi yang mengikuti dunia politik Amerika Serikat, pasti tahu kontroversi pemilihan umum 2016 lalu di mana Hillary Clinton dari partai Demokrat menerima suara 3 juta lebih banyak dari Donald Trump (presiden A.S. saat ini), namun Trump tetap dipilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Ini terjadi lagi di tahun 2020 di mana Biden memiliki suara 4 juta lebih banyak, namun belum bisa dinyatakan sebagai pemenang. Ini karena Amerika mempunyai electoral college system. Terus apa sih sistem elektoral alias electoral college system?

Di Indonesia, dalam pemilihan presiden dan anggota legislatif tahun 2019, rakyat langsung memilih pilihan mereka. Sistem seperti ini disebut sebagai direct elections – pemilihan langsung. Dalam electoral college, rakyat tidak langsung memilih presiden mereka. Yes, dalam kertas mereka memilih calon presiden mereka. Tapi dalam praktik, mereka memilih electors, atau pemilih, untuk memilih presiden yang memenangkan popular vote (suara tertinggi) dari setiap state (negara bagian) mereka.

Sejak tahun 1964, ada 538 pemilih untuk pemilihan presiden Amerika Serikat. 538 pemilih ini terbagi menjadi:

  1. 2 senator untuk setiap negara bagian A.S (50), sehingga ada 100 suara;
  2. Representatives atau perwakilan dari tiap daerah, yang tergantung dari ukuran negara bagian. Contohnya, California memiliki 53 perwakilan, sedangkan Hawaii hanya memiliki 2 perwakilan. Jumlah pemilih dari representatives adalah 435.
  3. 3 pemilih dari district of Columbia.

Agar seorang presiden bisa terpilih di Amerika Serikat, ia harus mencapai setidaknya 270 electoral vote. Bagaimana suara rakyat diubah menjadi satu electoral vote? Seorang presiden harus menang dulu di tingkat negara bagian. Contohnya, tahun ini Biden menang di California. Ini artinya Biden akan mendapatkan 55 suara. Sistem ini disebut sebagai winner takes all, karena pemenang mengambil suara elektor secara penuh. Jadi meskipun let’s say di California hanya ada selisih 30 ribu suara, sang pemenang akan tetap mengambil seluruh 55 suara.

Sistem ini tidak berlaku di Maine dan Nebraska, di mana yang berlaku adalah district system berdasarkan jumlah distrik kongres (congressional district). 2 suara untuk pemenang keseluruhan negara bagian, dan suara lainnya untuk pemenang distrik. Tahun 2016, Maine memberikan 3 suara untuk Clinton dan 1 suara untuk Trump.

Pemilih yang tidak memilih pemenang disebut sebagai faithless elector. Contohnya, pada tahun 2016, Hawaii memberikan satu suara kepada Bernie Sanders meskipun Clinton menang popular vote di Hawaii.

Sebelum tahun 2020, tidak ada larangan eksplisit bagi pemilih untuk tidak memilih sesuai dengan pemenang. Keputusan Mahkamah Agung A.S. pada 1952 menyerahkan isu ini kepada tiap negara bagian, di mana states boleh memberikan hukuman bagi faithless elector. Suara bagi Sander dari Hawaii diputuskan sah. Namun Washington memberikan denda 1000 dollar bagi faithless elector. Di Minnesota 2016 lalu, suara untuk Sanders diganti untuk Clinton. Tahun ini, di putusan Chiafalo v. Washington, M.A. Amerika Serikat memutuskan bahwa negara bagian boleh (may) memaksa pemilih untuk memilih sesuai dengan nominasi partainya dan pemenang suara negara bagiannya.

Apa yang terjadi jika jumlah suaranya sama? Maka Congress yang terdiri dari senator dan representatives, yang akan memutuskan presiden dan wakil presiden. Representatives akan memilih presiden sedangkan senator memilih wakil presiden. Namun, satu negara bagian hanya bisa memberikan satu suara untuk presiden. Sehingga, representative tiap negara bagian harus menyepakati untuk memilih satu presiden.

Recommend0 recommendationsPublished in Misc

Related Articles

Penundaan Pembayaran THR Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Di tengah kondisi bencana non-alam yang sedang terjadi, perusahaan-perusahaan banyak yang mengalami krisis, baik dari sisi usaha, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Sebagian besar pengusaha mengalami kekhawatiran akan keberlangsungan usaha mereka. Begitu pula bagi para karyawan, mereka khawatir akan turunnya gaji dan tunjangan mereka. Terlebih lagi, waktu-waktu ini adalah masa menjelang Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *