The Kids Are (Not) Alright 1: British Edition

Content warning: artikel ini akan membahas kasus pembunuhan seorang batita yang dilakukan oleh anak

Tidak bersalah atau innocent. Itulah salah satu sifat yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat anak-anak. Nyatanya, anak kecil kadang berbohong, berkata kasar, bahkan mencuri. Tapi bagaimana jika anak kecil itu membunuh orang lain, bahkan sesama anak?

James Patrick Bulger adalah seorang batita berusia 2 tahun dari Inggris. Pada 12 Februari 1993, ia dan ibunya pergi belanja di wilayah Liverpool. CCTV menunjukkan James dibawa oleh Robert Thompson dan Jon Venables pada pukul 15.42. Tragisnya, ibu James hanya distracted dalam beberapa menit.

Sebelum menculik James, Robert dan Jon terlihat mencuri permen, boneka, baterai, dan cat biru. Permen dan boneka ini digunakan untuk menarik perhatian James. James dibawa ke ke “Leeds dan Liverpool Canal”, di mana ia mulai disika oleh Robert dan Jon. Selama perjalanan, beberapa saksi melihat James menangis kencang. Akhirnya, untuk menghindari kerumunan orang, James dibawa ke rel kereta yang sudah tidak digunakan.

James ditemukan sudah tidak bernyawa pada 14 Februari, 2 hari setelah diculik. Keadaan tubuhnya cukup mengerikan dan hasil otopsi menemukan berbagai bekas siksaan. Seorang patologis forensik menyatakan bahwa James sudah meninggal sebelum tubuhnya dilindas oleh kereta api. Robert dan Jon memang sengaja menaruh tubuh James di rel kereta api agar kematiannya terlihat seperti kecelakaan.

Kasus ini menimbulkan kehebohan di Inggris saat itu. Hampir 5 ribu orang melakukan aksi massa di tempat pengadilan Robert dan Jon. Mereka diadili secara dewasa. Namun identitas mereka hanya diketahui sebagai A dan B, yang menjadikan kasus mereka Regina vs. A and B.

Sampai tahun 1998, Inggris menggunakan konsep doli incapax, yaitu suatu praduga hukum di mana anak di bawah 14 tahun tidak tahu konsep salah dan benar. Praduga ini bisa dibantah jika jaksa bisa memberikan bukti bahwa tersangka tahu bahwa ia melakukan kesalahan yang serius, bukan sekedar nakal (McGuinnes, T., 2016).

Orang yang dapat membuktikan bahwa Robert dan Jon mengetahui konsep salah dan benar adalah psikiater. Robert diperiksa oleh Dr. Eileen Vizard, sedangkan Dr. Susan Bailey dari Home Office psikiater forensik, memeriksa Jon (The Independent, 1993). Dr. Eileen Vizard menilai tidak tahu apakah Robert tidak paham konsep salah dan benar ketika ia melakukan perbuatannya. Vizard mengatakan bahwa hal itu “mungkin”. Dr. Susan Bailey sangat yakin bahwa Jon paham konsep tersebut.

Baik Jon dan Robert tidak berbicara selama proses pengadilan. Jaksa membangun kasus melawan mereka dengan memutar rekaman pemeriksaan mereka dengan polisi. Juri memutuskan bahwa Jon Venables dan Robert Thompson bersalah pada November 1993, ketika mereka sudah berusia 11 tahun. Hakim menghukum mereka dengan At Her Majesty’s Pleasure (konsep hukum Inggris di mana jangka hukumannya tidak dipatiskan), dengan rekomendasi minimal 8 tahun.

Pada tahun 1999, pengacara Venables dan Thompson memberikan keluhan kepada European Court of Human Rights (Pengadilan HAM Eropa) atas perlakuan terhadap klien mereka. Mereka menuntut bahwa hak Venables dan Thompson dalam :

  1. Hak untuk bebas dari hukuman yang tidak manusiawi;
  2. Hak atas kebebasan, dan
  3. Hak atas fair trial (pengadilan yang adil).

ECHR memutuskan bahwa hak Venables dan Thompson tidak dilanggar kecuali dalam hak atas fair trial. Hak atas fair trial Venables dan Thompson dilanggar karena adanya kesalahan dalam pemberian hukuman keduanya. Menteri dalam negeri saat itu, Michael Howard, memutuskan bahwa hukuman Venables dan Thompson menjadi minimal 15 tahun. Hal ini karena adanya petisi yang ditandatangani 280 ribu orang yang dikirim koran “The Sun” ke Howard.

Setelah putusan dikeluarkan, ada beberapa kritikan mengenai proses pengadilan Venables dan Thompson. Salah satu kritik adalah bahwa Venables dan Thompson dari awal tidak bisa membela diri mereka karena mereka diam saja. Diamnya mereka seharusnya menjadi bukti bahwa argumen jaksa, bahwa mereka bisa membedakan salah dan benar, gagal dibuktikan (Foster, 1999). Apalagi dalam pemeriksaan tidak ada bukti bahwa Venables dan Thompson melepaskan hak diam mereka (right to silence). Media juga dinilai terlalu intens meliput kasus ini.

Penulis berpendapat bahwa ada kesalahan prosedur ketika Venables dan Thompson tidak melepaskan hak untuk diam, dan ada implikasi mereka tidak diberi tahu hak tersebut. Aneh juga keduanya tidak berbicara secara langsung di pengadilan. Tapi kejahatan yang mereka lakukan sangat luar biasa. Mereka tidak sekedar melakukan penyiksaan dan pembunuhan. Mereka melakukannya dengan strategi seperti memancing dengan boneka dan permen, serta melakukan upaya untuk memalsukan penyebab kematian korban.

What do you think should have happened to Jon Venables and Robert Thompson? Let us know in the comment!

Recommend0 recommendationsPublished in Misc, Pidana, Reviews

Related Articles

Pencemaran Nama Baik bagi Terduga Pidana

Beberapa hari ini masyarakat Indonesia telah geram tentang beredarnya video dengan konten bantuan sosial berupa sembilan bahan pokok (sembako) yang ternyata berisi sampah. Banyak orang yang mencaci maki pelaku karena tindakan tersebut dinilai tidak bermoral terutama dilakukan pada masa sulit ditengah – tengah pandemi ini. Menurut metro tempo Pelaku Pun saat ini dalam proses pemeriksaan karena diduga melanggar Pasal 36 jo 51 ayat 2 Undang – Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun. Dengan beredarnya video tersebut banyak masyarakat Indonesia yang mencaci maki pelaku baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun perlu dicatat bahwa tindakan pelaku belum melewati proses pengadilan.

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications