The Notorious RBG’s Legacy

Siapa yang tidak mengenal Ruth Bader Ginsburg atau dalam pop-culture lebih dikenal sebagai ‘Notorious’ RBG? Beliau merupakan salah satu mantan Hakim Agung di U.S Supreme Court yang meninggal pada 18 September 2020 lalu. Uniknya, RBG mendapatkan julukan The Notorious RBG diawali dari seorang mahasiswa hukum yang membuat akun tumblr dengan mengadopsi nama panggung almarhum rapper Christopher George Latore Wallace yang biasa dikenal sebagai The Notorious B.I.G.

RBG lahir pada 15 Maret 1933 dengan latar belakang keluarga jewish dan menghabiskan masa mudanya di Brooklyn. RBG merupakan salah satu dari 9 perempuan yang kuliah di Harvard Law School angkatan 552, dimana kemudian ia pindah ke Columbia University untuk menyelesaikan studinya. RBG mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari Columbia University, dikarenakan pada masa itu sangat sulit untuk mendapatkan equality tanpa melihat latar belakang seseorang. “Not a law firm in the entire city of New York would employ me,” she later said. “I struck out on three grounds: I was Jewish, a woman and a mother” (BBC News, 2020). Akan tetapi, hal ini yang kemudian mendorong beliau hingga menjadi salah satu icon feminist. RBG sendiri adalah salah satu pendiri Women’s Rights Project at the American Civil Liberties Union (ACLU) dan sebagai perempuan pertama yang menjadi profesor tetap di Columbia Law School pada tahun 1972. Disusul pada tahun 1993 dimana beliau menjadi perempuan kedua yang menduduki bangku Hakim Agung di U.S Supreme Court, setelah Hakim Sandra Day O’Connor.

RBG meninggalkan banyak legacy dalam perkembangan hukum di Amerika Serikat, dengan dissenting opinion-nya yang tegas dan lugas, ia membawa perubahan yang signifikan terutama dalam ranah kesetaraan gender. Berikut adalah 3 legacy RBG baik sebelum ia menjadi Hakim Agung atau ketika ia sudah menjadi Hakim Agung di U.S Supreme Court

1. Reed v. Reed (1971)

Kasus ini berawal dari salah satu aturan di Idaho mengenai preferensi laki – laki terhadap perempuan ketika seseorang seharusnya memiliki hak yang sama dalam hal penunjukkan sebagai administrator dari peninggalan seorang ahli waris tidak seharusnya didasarkan kepada diskriminasi. RBG memenangkan kasus ini dengan argumen bahwa aturan ini dianggap melanggar Equal Protection Clause pada Amandemen ke-14 Konstitusi Amerika Serikat, dimana seharusnya setiap orang berhak untuk mendapatkan perlakuan dan perlindungan hukum yang sama tanpa adanya diskriminasi.

2. United States v. Virginia (1996)

Kasus ini berawal dari Virginia Military Institute (VMI) yang membatasi pendaftaran mereka terhadap laki-laki, dengan alasan bahwa perempuan dinilai tidak akan sanggup menghadapi kerasnya program pelatihan mereka. Sebagai alternatif, Virginia Women’s Institute for Leadership (VWIL) didirikan khusus untuk perempuan di Mary Baldwin College. RBG, berpendapat bahwa ia tidak yakin jika fungsi VMI dan VWIL sepadan baik dalam hal pendidikan dan pelatihan, atau bahkan keuntungan setelah lulus. Menurut beliau, seharusnya tidak ada kebijakan atau hukum yang membatasi perempuan, dengan hak mereka sebagai warga negara, untuk turut berpartisipasi dan berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan kapasitas mereka sebagai individu. Pernyataan ini kemudian didukung oleh mayoritas hakim agung.

3. Ledbetter v. Goodyear Tire and Rubber Company (2007)

Lilly Ledbetter adalah seorang buruh perempuan di Goodyear Tire & Rubber Co. yang memprotes karena upah buruh perempuan yang lebih rendah dibandingkan buruh laki – laki di ranah pekerjaan dan posisi yang sama. Hakim Agung Alito, sebagai mayoritas, berpendapat bahwa Lilly Ledbetter tidak memprotes dalam jangka waktu 180 hari dihitung dari pemberian gaji pertama, dimana ia dianggap setuju atas upahnya yang lebih rendah dibandingkan laki – laki. Akan tetapi, RBG dengan dissenting opinion-nya menolak dengan argumen bahwa penghitungan 180 hari tersebut dihitung sejak pegawai menyadari adanya diskriminasi. Pernyataan beliau kemudian memberikan dampak dengan adanya regulasi baru yaitu Lilly Ledbetter Fair Pay Act yang ditandatangani dan disahkan oleh Presiden Barack Obama pada 29 Januari 2009.

Tentu legacy RBG tidak hanya itu, masih banyak lagi peninggalan – peninggalan beliau yang mendorong perkembangan hukum di Amerika Serikat.

“To make life a little better for people less fortunate than you, that’s what I think a meaningful life is. One lives not just for oneself but for one’s community.” – RBG

Sources:

  1. Linda Greenhouse, “Ruth Bader Ginsburg, Supreme Court’s Feminist Icon, Is Dead at 87”, New York Times, 18 September 2020.
  2. Peniel Joseph, “How to Remember the ‘Notorious RBG’”, CNN Opinion, 25 September 2020.
  3. Holly Honderich and Jessica Lussenhop, “Ruth Bader Ginsburg: Obituary of the Supreme Court Justice”, BBC News, 18 September 2020.
  4. Jay Croft, “10 quotes that help define the ‘Notorious RBG’ legacy of Ruth Bader Ginsburg”, CNN Politics, 20 September 2020.
  5. Justitia U.S Supreme Court
Recommended1 recommendationPublished in News

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *